“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Luk. 16:10) Ada seorang pemuda yang melayani di sebuah gereja selama 3 tahun. Selama melayani yang ia lakukan adalah menyiapkan kursi-kursi yang akan digunakan jemaat untuk beribadah, membersihkan ruangan ibadah, serta menyiapkan hal-hal lainnya yang diperlukan oleh para pengerja lainnya. Ia sempat menjadi bahan pembicaraan banyak orang karena pelayanan yang pemuda itu lakukan bisa dikatakan sebagai pekerjaan yang kecil dan cenderung disepelekan, namun ia tetap melakukannya dengan setia. Namun dikemudian hari, pada akhirnya ia dipercayakan untuk menjadi pemimpin bagi persekutuan anak-anak muda di gereja tersebut. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk tetap setia pada perkara-perkara yang Tuhan percayakan, bahkan dalam perkara-perkara kecil sekalipun. Apabila kita merenungkan perkataan Yesus pada ayat 10, kita dapat memahami bahwa kesetiaan dalam perkara kecil menentukan kesetiaan dalam perkara besar. Hari-hari ini, banyak orang ingin langsung dipercaya untuk melakukan tugas-tugas yang besar dan diapresiasi oleh banyak orang. Untuk saat ini mungkin kita merasa hanya mendapat tugas kecil, sepele, yang bahkan banyak orang tidak mau melakukannya. Meskipun begitu, tetap lakukan dengan setia dan dengan penuh tanggung jawab. Tuhan memperhitungkan kesetiaan kita. Apabila kita setia dalam perkara kecil, Dia akan mempercayakan kepada kita perkara yang lebih besar lagi. Sesuatu yang besar dimulai dari hal kecil, tidak ada yang instan di dalam melayani Tuhan. God bless!!!
“Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.” (Luk. 15:9) Ketika seseorang memiliki hobi atau kebiasaan mengoleksi suatu barang, maka sudah pasti orang tersebut memiliki barang yang dikoleksinya dalam jumlah yang banyak. Misalnya, ada orang yang hobi mengoleksi perhiasan seperti cincin. Lalu pada suatu ketika, salah satu cincin yang dikoleksinya tersebut hilang entah kemana. Ia mencoba mencari-cari cincin itu disekitar tempat ia menyimpan, bahkan ia mencari sampai ke kolong meja kalau saja mungkin cincin tersebut terjatuh. Dan ketika ia berhasil menemukan cincin yang hilang tersebut, maka ia sangat bersukacita dan ia menyimpannya kembali ke wadah penyimpanan. Baginya, satu cincin yang sempat hilang tadi sangatlah berharga karena adalah ia memperoleh cincin-cincin tersebut dari hasil yang diperoleh dari kerja kerasnya selama ini. Firman Tuhan hari ini membahas tentang perumpamaan dirham yang hilang, dimana perumpamaan ini mengajarkan sekaligus mengingatkan kita untuk menaruh fokus kita kepada jiwa-jiwa yang terhilang. Jiwa yang terhilang disini merujuk pada orang-orang yang selama ini masih terjebak dalam kehidupan yang penuh dosa, dan tersesat. Pada ayat 9, kita dapat memahami bahwa pemilik dirham tahu betul berapa jumlah dirhamnya. Baginya, dirhamnya adalah hasil kerja kerasnya, miliknya, dan harta berharganya. Jadi, ia akan terus berusaha menjaganya dengan baik. Sama seperti kita dimata Tuhan. Bagi-Nya, kita adalah milik-Nya yang berharga. Tidak ada satupun yang terlewatkan di mata Tuhan. Sama halnya dengan satu orang berdosa yang terhilang dan tersesat. Satu orang yang terhilang adalah harta berharga bagi Tuhan. Dalam kasih-Nya, Ia akan selalu mencari, dengan segala upaya agar orang berdosa datang kembali kepada-Nya. Tuhan mengatakan bahwa para malaikat surgawi akan bersorak-sorai saat satu orang berdosa bertobat. Tuhan mengasihi semua orang tanpa melihat latar belakangnya. God bless!!!
Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lk. 15:7) Ayah yang benar adalah orang yang mengasihi anaknya dengan segenap hati. Saat anaknya sakit, ia akan merawatnya sampai sembuh. Jika anaknya hilang, ia tidak akan membiarkannya, ia pasti akan mencarinya. Beberapa waktu yang lalu ada seorang ayah di Tiongkok yang bernama Shengkuan ramai dibicarakan orang karena mencari anaknya yang hilang (awal 2015). Saat itu, anaknya yang masih berusia 20 bulan tiba-tiba menghilang pada waktu bermain dengan sepupunya. Padahal ia memiliki keterbatasan fisik, tetapi ia mau berkorban untuk anak yang dikasihinya. Dalam firman Tuhan hari ini, Yesus menggunakan perumpamaan tentang domba yang hilang. Perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan betapa pentingnya mencari dan menyelamatkan manusia yang terhilang. Tujuan Tuhan Yesus datang ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Tuhan Yesus tahu bahwa dengan kekuatannya sendiri, manusia tidak akan bisa selamat. Karena begitu besar kasih-Nya kepada manusia, Ia datang dan rela mati di kayu salib untuk menjadi korban pendamaian bagi kita (Yoh. 3:16). Bagi Tuhan, kita semua adalah milik-Nya dan berharga di mata-Nya. Orang benar dan orang berdosa sama-sama milik Tuhan. Ketika satu saja orang berdosa terhilang, Tuhan akan mencari dan menyelamatkannya. Jika ada yang bertobat, seisi sorga akan bersukacita. Sebagaimana kita telah diselamatkan, kita pun harus menyelamatkan orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus, agar mereka pun diselamatkan. Satu jiwa berharga di mata Tuhan, semua orang dikasihi-Nya! Tidak ada orang yang begitu jahatnya sehingga Roh Kudus tidak mampu menjamah hatinya untuk menyelamatkannya. God bless!!!
Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. (Luk. 14:13) Pepatah Jawa berkata: Sapa nandur, ngunduh (siapa menanam, akan memetik buahnya). Namun, terkadang orang menerapkan pepatah ini secara tidak tepat. Ada saja orang-orang yang memberi dengan mengharapkan imbalan. Misalnya ada orang yang mengadakan sebuah pesta dengan biaya sedikit, ia mengundang orang-orang yang memiliki banyak harta dengan tujuan ia mendapatkan uang lebih. Memberi dengan mengharapkan imbalan merupakan hal yang tidak berkenan di hadapan hati Tuhan, hal itu sama artinya kita tidak tulus dalam memberi. Yesus memberikan perintah atau nasihat kepada kita, “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta” (ay. 13). Pada dasarnya, segala sesuatu yang kita lakukan untuk Tuhan, kita telah menerima upah dari-Nya. Tuhan Yesus telah menunjukkan teladan dalam memberi, Ia tidak menuntut imbalan dari kita. Ia hanya mengharapkan kita percaya sepenuhnya kepada-Nya, agar kita hidup bersama-sama dengan-Nya di dalam kekekalan. Mari kita ikuti teladan Kristus dalam memberi, kita harus memiliki sikap hati yang tulus. Tuhan memanggil kita supaya menjadi berkat bagi dunia ini, bukan menjadi orang yang mementingkan dan mencari keuntungan sendiri. Maka bersyukurlah kepada Tuhan jika sampai saat ini kita masih diberi Tuhan kesempatan menjadi saluran berkat-Nya dalam dunia ini. Memberilah dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, sebab Tuhan sendirilah yang akan memperhitungkan apa yang kita lakukan untuk-Nya. God bless!!!
Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (Luk. 13:23) Suatu kali ada seseorang yang bertanya kepada Tuhan Yesus mengenai jumlah orang yang akan diselamatkan. Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, tetapi justru menjawab pertanyaan tersebut dengan menganjurkan agar kita berjuang masuk melalui pintu yang sesak selagi terbuka. Karena jika seseorang terlambat, tidak ada kesempatan kedua. Dengan demikian, kita bisa memahami satu aspek tentang berita keselamatan. Tuhan menyelamatkan orang-orang yang masuk melalui pintu yang sesak, yaitu mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka diperbolehkan masuk, duduk, dan makan bersama di dalam Kerajaan Allah. Semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus memang telah mendapatkan keselamatan, namun tidak berhenti sampai disitu saja, kita harus mengerjakan keselamatan. Artinya kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik. Kita harus mengerjakan bagian masing-masing, yaitu berjaga-jaga agar tetap di pintu yang sesak itu. Untuk itulah mengapa kita harus selalu mendengarkan dan taat pada firman-Nya. Bersyukurlah kepada Tuhan Yesus yang berkenan menyelamatkan kita! Maka dari itu, bagikanlah keselamatan kepada semua orang, dimulai dari keluarga, saudara dan orang-orang disekitar kita. Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik. God bless!!!
Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! (Luk. 13:7) Suatu kali, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seseorang yang menanam pohon ara di kebun anggurnya. Ditanamnya sebuah pohon tentu memiliki sebuah alasan, demikian pula dengan pohon ara. Pohon ara ditanam agar menghasilkan buah dan buahnya pun manis. Namun, setelah tiga tahun, pohon itu tidak juga berbuah, sang pemilik begitu kecewa sampai ingin menebangnya. Perlu kita ketahui, pohon ara adalah pohon yang luar biasa. Pohon ara bisa tumbuh subur di segala tempat dan musim. Satu pelajaran penting bagi kita saat ini adalah Tuhan Yesus menuntut hidup kita berbuah disegala tempat dan musim. Hidup pada zaman ini memang tidak mudah, banyak tantangan dan godaan yang menggiurkan agar kita jatuh dalam dosa. Apalagi jika kita hanyalah sebagian kecil di tengah lingkungan dan komunitas yang begitu luas. Namun, kita harus mampu mengalahkan setiap godaan tersebut agar kita tetap hidup berbuah. Tuhan Yesus menginginkan kita hidup berbuah dimana pun kita berada, terlebih lagi kita hidup di dunia yang sudah dikuasai oleh dosa. Tak peduli sesulit apa pun tantangan yang sedang kita hadapi, tetaplah berbuah bagi Tuhan. Biarlah cahaya kemuliaan-Nya terpancar terang melalui hidup kita dan kita pancarkan kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Tetaplah berbuah di mana pun kita berada. God bless!!!
Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. (Luk. 12:37) Dari nas sebelumnya, sebagai anak-anak Tuhan kita dituntut agar fokus mengumpulkan harta surgawi, bukan hidup dalam ketamakan dan kekuatiran. Yesus mengajar sebuah perumpamaan tentang para hamba yang berjaga-jaga menantikan tuannya menghadiri pesta perkawinan. Para hamba harus siap sedia menyambut tuannya kembali, sekalipun waktu kembalinya tengah malam atau dini hari. Dari perumpamaan tersebut kita bisa belajar bahwa Yesus bermaksud menyampaikan pesan penting kepada para murid. Yesus mengecam mereka yang sudah tahu kehendak Tuhan, tetapi tidak mau melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan setia. Tuhan menciptakan kita di dunia dengan sebuah tugas dan panggilan besar untuk kerajaan Allah. Kalau kita dipercayakan sesuatu oleh Tuhan Yesus, semuanya itu adalah kasih karunia. Kita harus melakukan semua panggilan yang Tuhan percayakan dengan setia. Setiap anak-anak Tuhan mempunyai tanggung jawab yang sama, yaitu kita harus berjaga-jaga dan setia dalam mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah dipercayakan Tuhan dengan benar. Mari kita gunakan waktu-waktu yang singkat ini untuk bekerja dan berkarya bagi Tuhan. Biarlah Tuhan Yesus mendapati kita menjadi hamba yang setia dan berkenan di hadapan-Nya. Hamba yang baik akan setia terhadap tugas dan panggilan yang dipercayakannya, bahkan ia akan melakukannya dengan cara yang benar. God bless!!!
Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.” (Luk. 9:20) Banyak orang yang mengak percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak semua orang mengenal-Nya dengan benar. Padahal, pengenalan yang benar akan membuat orang memiliki iman yang berakar. Hal inilah yang menjadi dasar bagi Yesus untuk mengajukan pertanyaan kepada murid- murid-Nya, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” Sebab, sekalipun mereka sudah mengikut Yesus, mereka tidak tahu siapa Yesus yang sebenarnya. Jawaban para murid pun beraneka ragam. Ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis., Elia, ada juga yang mengatakan bahwa Yesus adalah salah satu dari nabi yang bangkit. Tetapi karena pertolongan dari Roh Kudus, Petrus berhasil menjawab dengan benar. Sebagai orang percaya, kita tidak cukup hanya menjadi pengikut Yesus. Lebih dari itu, kita harus mengenal-Nya dengan benar, bukan sebuah pengenalan yang lahir dari apa kata orang. Mengikut Yesus tanpa sebuah pengenalan hanya akan melahirkan kekristenan yang dangkal, atau kita hanya sekedar menjadi orang Kristen yang ‘latah,’ hanya meniru apa yang orang lain lakukan. Pengakuan akan Yesus sebagai Mesias yang dilahirkan dari pengalaman perjumpaan pribad dengan-Nya merupakan fondasi iman yang kuat. Hal ini tidak akan dapat digoyahkan oleh ribuan macam godaan dan ancaman yang datang menerpa. Milikilah kerinduan untuk mengenal-Nya, supaya kita tidak menjadi orang Kristen yang dangkal. God bless!!!