Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku (Mrk. 10:21) Saat kita hidup di dalam kekurangan, kita memohon kepada Tuhan Yesus supaya Ia memberkati apa yang kita kerjakan. Kita begitu setia mengiringnya sampai tak mengenal waktu supaya Tuhan memberkati kita. Namun, setelah hidup kita diberkati, kita begitu disibukkan dengan pekerjaan kita sampai lupa waktu untuk bersekutu dengan-Nya. Bukankah ini yang banyak terjadi di sekitar kita? Banyak orang mengikut Kristus karena ingin hidupnya diberkati, padahal Tuhan Yesus tidak bisa disuap dengan apapun yang kita lakukan. Kesulitan untuk meninggalkan harta adalah sikap batin manusia yang cenderung melihat bahwa tujuan hidup adalah harta benda yang dimilikinya. Yesus tidak pernah marah jika kita memiliki harta yang melimpah, karena Ia sadar bahwa itu juga berkat dari-Nya. Tetapi Yesus akan sedih jika melihat anak-Nya fokus kepada harta, bukan kepada-Nya. Kekayaan yang melimpah adalah anugerah, tetapi bisa jadi musibah jika karena kekayaan itu kita meninggalkan keintiman dengan-Nya. Sadarilah semua itu adalah berkat Tuhan yang harus kita persembahkan untuk memuliakan-Nya. Jikalau hari ini kita memiliki kekayaan itu semata-mata hanyalah anugerah. God bless!!!
Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah (Mrk. 10:14) Kita harus menyadari dan mengakui bahwa dunia ini semakin hari semakin merosot moralnya (2 Tim. 3:1-4). Apa yang dikatakan oleh firman Tuhan pasti akan terjadi, ‘yang kudus makin kudu, yang cemar makin cemar’ (Why. 22:11). Alkitab sudah memperingatkan bahwa pergaulan buruk merusakkan kebiasaan baik yang dibangun sekian tahun lamannya (1 Kor. 15:33). Apapun yang diajarkan oleh orang tua mencakup, Pendidikan jasmani maupun rohani, semuanya bisa menjadi rusak oleh pengaruh pergaulan buruk. Untuk itu, setiap orang tua harus mendidik anaknya sesuai dengan firman Tuhan sejak kecil. Masalahnya, terkadang orang tua memiliki alasan untuk tidak membawa anak-anaknya datang kepada Tuhan Yesus. Percuma mereka dibawa ibadah sekolah Minggu sebab mereka tidak akan mengerti apa yang diajarkan. Keluarga memainkan peran kunci dalam membentuk kepribadian seorang anak sejak dini. Keluarga sampai kapan pun tetap menjadi pusat/sentral di mana nilai-nilai dan pola kehidupan seseorang terbentuk (Ul. 6:4-9). Jangan menunggu anak-anak rusak oleh pergaulan dunia baru dibawa kepada Tuhan Yesus. Setiap orang tua punya peran untuk melakukan amanat agung di dalam keluarga, yaitu mendidik anak. God bless!!!
Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain. (Mrk. 9:50) Pada saat itu garam merupakan komoditas yang paling dicari orang, harganya mahal, bahkan dijuluki “emas putih.” Yesus pun menyamakan kita dengan garam, kata-Nya, “Kamu adalah garam dunia” (Mat. 5:13). Selain karena berharga, garam merupakan barang yang sangat berguna bagi manusia. Kegunaannya yang dirasakan oleh masyarakat membuat garam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dapat dibayangkan, jika di dunia tidak ada garam, maka makanan akan menjadi hambar dan tidak enak untuk dinikmati. Dengan analogi itu, Tuhan Yesus mengingatkan kepada semua pengikut-Nya untuk hidup memberi rasa kepada orang-orang disekitar. Dunia membutuhkan kita, yaitu untuk memberi kenikmatan dan cita rasa yang berbeda kepada dunia yang semakin jahat. Kehadiran orang percaya harus menjadi pembawa terang kemuliaan Tuhan, sehingga kegelapan tidak ada lagi. Bukankah Tuhan Yesus dalam doanya menyatakan agar keadaan ‘di bumi seperti di sorga’? Hal itu akan terealisasi jika orang Kristen melakukan fungsinya sebagai garam, bukan berdiam diri. Bukankah salah satu penyebab kejahatan adalah karena orang-orang baik diam? Kita harus menjaga kualitas garam dalam hidup kita supaya tidak menjadi hambar. Hal itu dapat dilakukan jika kita selalu terkoneksi dengan Tuhan Yesus. Kualitas hidup kita akan semakin terlihat jika terus terkoneksi dengan Tuhan Yesus, sehingga kita hidup menjadi garam. God bless!!!
Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35) Semua orang ingin hidupnya di hargai, tidak ada yang ingin hidupnya direndahkan. Orang-orang berlomba mencari popularitas atau ketenaran demi mendapatkan kehormatan. Tampaknya perkara ini pun juga dialami para murid, mereka mempersoalkan tentang siapa yang terbesar. Ironis sekali, sementara Yesus dengan penuh pilu mulai mewartakan penderitaan-Nya di sepanjang jalan perjalanan menuju Yerusalem, fokusnya hanya untuk jiwa-jiwa, tetapi para murid justru sibuk bergunjing soal kehormatan, “mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.” Yesus pun menegur mereka dengan mengambil seorang anak kecil, jika ingin menjadi terbesar harus melayani seorang anak kecil. Hal ini memang tidak lazim. Hal ini merupakan pesan yang penting untuk hidup kita, bahwa Yesus menolak gaya hidup yang berpusat pada diri sendiri, sebagaimana dipertontonkan oleh para murid. Sebab begitu banyak orang yang jatuh oleh karena kekuasaan. Kita harus memahami bahwa kebesaran itu bukanlah kedudukan, jabatan, atau keberhasilan yang besar lainnyya. Itu bukanlah apa yang kita kerjakan bagi Allah, tetapi keadaan rohani kita di hadapan Dia. Dari pada sibuk mencari perkenanan manusia, alangkah lebih baiknya mengejar perkenanan Tuhan Yesus. Apa yang kita kejar di dunia ini bersifat sementara, namun apa yang kita kejar untuk Tuhan bersifat kekal. God bless!!!
Sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit. Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. (Mrk. 9:31-32) Ada istilah “malu bertanya sesat di jalan, terlalu banyak bertanya memalukan,” tampaknya istilah ini patut disematkan kepada para murid Tuhan Yesus. Kebersamaan Yesus dan para murid adalah masa observasi yang cukup bagi-Nya untuk mempelajari karakter para murid, yang salah satu kelemahannya adalah lambat memahami setiap apa yang dikatakan-Nya. Injil Markus mencatat bahwa saat Tuhan Yesus mengajar tentang penderitaan-Nya para murid tidak memahami perkataan-Nya, namun mereka segan untuk bertanya. Mungkin para murid menganggap apa yang dikatakan Yesus tidak ada artinya, sebab bagi mereka Mesias adalah seseorang yang akan memberikan pembebasan dari penjajahan bangsa Romawi. Hal ini mengajarkan satu kebenaran penting bagi kita sebagai anak-anak Tuhan untuk memiliki sikap yang mau mendengarkan dan bertanya, serta menyelidiki kebenaran. Jangan acuh terhadap ketidaktahuan kita, terlebih lagi hal itu tentang kebenaran firman. Tahu kebenaran yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari akan menghasilkan perubahan hidup. Salah satu jawaban dari pertanyaan kenapa hidup kita tidak mengalami perubahan adalah karena kita membiarkan hidup kita berjalan dalam ketidaktahuan. Bertanyalah kepada Roh Kudus atau mungkin kepada orang yang lebih mengerti firman, supaya kita tidak buta akan kebenaran! Ketidaktahuan akan kebenaran akan membuat hidup kita tidak mengalami perubahan hidup. God bless!!!
Maka kata Yesus kepada mereka: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” (Mrk. 9:19) Ada seorang anak yang dirasuk roh jahat dengan kondisi yang sangat parah sampai bisu dan kejang-kejang. Yesus menegur murid-murid-Nya yang tidak dapat melakukan pengusiran roh jahat karena tidak percaya. Ketika Yesus ada di hadapan anak itu, maka roh jahat itu menyiksanya. Hal ini telah dialaminya sejak kecil, sehingga orang tuanya pun meminta pertolongan kepada Tuhan Yesus. Yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa para murid tidak bisa mengusir roh jahat tersebut? Tuhan Yesus menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena mereka tidak percaya. Kebersamaan tiap hari dengan Yesus tidak membuat murid-murid-Nya memahami siapakah Yesus yang sebenarnya. Hal seperti itu pun bisa terjadi dalam hidup kita, kita sudah berdoa dan baca firman setiap hari tetapi hidup kita tidak memanifestasikan kuasa. Kita tidak bisa mengusir roh jahat, kalah terhadap dosa, hidup dalam kekuatiran dan ketakutan, dan masih banyak hal lainnya. Hal itu bisa kita alami karena kita tidak menghidupi firman yang kita baca. Doa yang kita lakukan hanyalah sebuah rutinitas saja, bukan sebagai sebuah kerinduan untuk mengenal Dia. Nama Yesus adalah nama yang berkuasa, bukan hanya sekedar nama. Percaya akan kuasa-Nya yang dapat melepaskan kita dari segala keterikatan kuasa roh jahat. Kenal dan percayalah kepada Yesus maka hidup kita akan mendemonstrasikan kuasa-Nya. God bless!!!
Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. (Mrk. 9:6) Pada umumnya banyak orang Kristen lebih takut kepada Setan dari pada takut kepada Tuhan Yesus. Ketakutan kepada Setan dan kepada Yesus merupakan ketakutan yang berbeda. Takut kepada Setan adalah ketakutan yang menyebabkan intimidasi, sedangkan takut kepada Yesus merupakan ketakutan karena kita menghormati-Nya sebagai Tuhan. Rasa hormat dan takjub inilah arti dari “takut akan Allah” bagi orang-orang Kristen. Inilah faktor yang memotivasi kita untuk berserah pada sang Pencipta alam semesta. Dalam peistiwa Yesus dimuliakan di atas gunung, Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Tuhan Yesus berubah wujud, atau yang kita kenal dengan transfigurasi. Hal itu membuktikan bahwa Yesus adalah Mesia. Namun, Petrus masih belum bisa menangkap makna kemesiasan Yesus. Markus menyebut tindakan Petrus itu sebagai ketidaktahuan Takut akan Allah adalah dasar bagi kita untuk mengikuti jalan-Nya, melayani Dia, dan terutama, mengasihi Dia. Takut akan Allah lebih dari sekedar kita menghormati-Nya, sikap itu harus dimanifestasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Rasa takjub, kagum atau hormat kita kepada-Nya tidak ada artinya jika hal itu tidak diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, rasa takut akan Allah membuat kita hidup menjauhi dosa, sebab dosa adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah. Kita belajar untuk memahami dan melakukan apa yang menjadi kesukaan-Nya. Mari tunjukkanlah sikap takut akan Allah dalam hidup sehari-hari. Rasa takut akan Allah harus dimanifestasikan dalam hidup sehari-hari yang membuat kita hidup menjauhi dosa. God bless!!!
Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias! (Mrk. 8:29) Dari zaman dahulu sampai sekarang banyak orang tidak memiliki pengenalan yang benar tentang YEsus. Itulah sebabnya banyak orang menolak dan tidak pernah mau mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa Yesus adalah manusia biasa. Tidak sedikit orang yang akhirnya menghujat Yesus, ‘Tuhan kok jadi manusia, Tuhan kok mati.’ Hal tersebut adalah hal yang wajar, mengingat mereka tidak percaya Tuhan Yesus. Suatu ketika Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “‘Kata orang, siapakah Aku ini?’ Jawab mereka: ‘Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.'” (ay. 27, 28). Tetapi Petrus menjawab dengan tegas, “Engkau adalah Mesias!” (ay. 29). Penghakuan Petrus pun sangat mengejutkan, sebab banyak dari mereka yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Petrus telah mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias, namun hanya Mesias secara politis. Hal itu terbukti bahwa pada akhirnya Petrus mengkhianati Yesus. Setiap orang yang percaya kepada Kritus adalah pekerjaan Roh Kudus (1 Kor. 12:3). Untuk itu, seharusnya kita bersyukur kepada Kristus atas kasih-Nya kepada kita. Kerjakanlah keselamatan! Alkitab menyatakan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Kristus (Kis.4:12). Jangan menyia-nyiakan apa yang sudah Ia kerjakan di dalam kita, sebab semuanya itu adalah kasih karunia. Pengenalan yang benar tentang Kristus akan berdampak pada cara berpikir dan tindakan hidup kita. God bless!!!