Author: Administrator

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365 │DAY 263

Rabu, 20 September 2023 Pembacaan Alkitab; Ayub 37-39 Diam Dalam Hadirat-Nya “Maka jawab Ayub kepada TUHAN: “Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan, satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan.” (Ayub 39:36-38) Ketika Ayub merasa terlalu kecil dan hina di hadapan Allah. Dia menyadari akan kebesaran Allah dan betapa kecil dirinya di hadapanNya. Hal Ini adalah sikap yang penting dalam hidup kita sebagai orang percaya. Terkadang, kita terlalu sibuk dengan diri sendiri atau masalah kita sendiri sehingga kita melupakan tentang kebesaran Allah. Ayub mengajarkan kita untuk selalu mengingat betapa besar Allah yang kita sembah. Ayub juga menyatakan niatnya untuk tidak berbicara lagi. Dia merasa bahwa kata-katanya tidak cukup untuk mengungkapkan kebesaran Allah. Demikian juga dengan kita perlu mengenal batasan kata-kata kita dan hanya merenungkan kehadiran Allah dalam keheningan hati kita. Ini adalah saat di mana kita bisa mendengarkan suara Tuhan lebih banyak daripada berbicara kepadaNya. Ketika Ayub mengatakan bahwa dia tidak akan berbicara lagi, ini juga bisa diartikan sebagai sikap patuh. Dia siap untuk mendengarkan Allah dan patuh terhadap-Nya. Ambilah pelajaran dari hal ini untuk kita lebih patuh terhadap firman Allah dan berhenti menuntut kepada Tuhan. Sikap Ayub adalah bentuk pertobatan dan kerendahan hati. Dia mengakui keterbatasan dirinya dan bersedia meletakkan dirinya di bawah kuasa Allah. Hal Ini mengingatkan kita akan pentingnya kerendahan hati dalam hubungan kita dengan Allah. Kita harus siap untuk selalu merendahkan diri kita dan mengakui bahwa kita butuh Dia. Mari kita belajar dengan melihat contoh sikap hati Ayub yang mengakui betapa besarnya Allah sehingga ayub Merendahkan diri & tetap setia Menyembah kepada Allah. Jika kita juga melakukan seperti apa yang ayub lakukan maka hubungan kita dengan Allah menjadi lebih dekat & intim Berilah waktu untuk berdiam diri lebih lagi dihadapan Tuhan dan nikmati hadiratNya, dengarkan suara Tuhan, maka kita akan mengerti kehendakNya.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365 │DAY 262

Selasa, 19 Sept 2023 Pembacaan Alkitab; Ayub 33 – 36 Allah Yang Adil & Tidak Berlaku Curang Malah Ia mengganjar manusia sesuai perbuatannya, dan membuat setiap orang mengalami sesuai kelakuannya. Ayub 34:11 Setiap perbuatan manusia pasti akan ada ganjaran nya. Apakah perbuatan kita ini menyakiti hati Tuhan atau menyenangkan hatiNya. Sebagai orang percaya, setiap perbuatan harus sesuai dengan firman Tuhan. Allah Selalu berlaku adil. DIA tidak pernah berbuat curang dan bertindak tidak adil. Dia adalah Allah yang penuh kasih, seluruh tindakan-Nya adalah kasih. Dalam Ibrani 12:6 dikatakan “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Tuhan ingin mendisiplinkan anak-anakNya supaya tidak melakukan perbuatan yang tidak berkenan dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Karena dalam setiap perbuatan kita pasti akan ada ganjaran nya. Koreksi, teguran, maupun hajaran dari Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik untuk kita semua. Tuhan mau mendidik orang yang dikasihinya agar kehidupan nya serupa dan selaras denganNya. Akan tetapi tetap saja ada orang yang berpikir bahwa Allah tidak adil terhadap dirinya. Pikiran atau anggapan seperti itu sering muncul pada saat seseorang mengalami penderitaan yang amat panjang, seperti Ayub. Akibatnya banyak yang frustrasi dan menuding Allah bertindak tidak adil terhadap dirinya. Sebagai anak-anak Nya tetaplah melekat dan miliki keintiman dengan Tuhan agar ketika masalah & ujian yang kita hadapi memiliki respon yang benar dan menyenangkan hatiNya. Walaupun kita sedang berada dalam kondisi yang menderita dan tidak menyenangkan, tetaplah berserah kepada-Nya & Dalam segala hal Lakukan yang terbaik bagi Dia. Karena kita punya Allah yang adil yang mengganjar sesuai dengan apa yang kita lakukan

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365 │DAY 261

Senin, 18 Sept 2023 Pembacaan Alkitab; Ayub 29 – 32 KOMITMEN UNTUK HIDUP SALEH Jikalau langkahku menyimpang dari jalan, dan hatiku menuruti pandangan mataku, dan noda melekat pada tanganku, maka biarlah apa yang kutabur, dimakan orang lain, dan biarlah tercabut apa yang tumbuh bagiku. Ayub 31:7-8 Kalau kita belajar dari kisah Ayub, bagaimana kehidupan nya yang saleh dan selalu menyenangkan hati Tuhan, tapi mengapa Ayub harus mengaku tidak bersalah di hadapan Tuhan. Apa yang dialaminya sungguh sangat berat, mungkin itu lah yang membuat Ayub ingin membela dirinya. Seakan-akan apa yang dialaminya itu semua karena kehidupan nya yang tidak baik di hadapan Tuhan, sehingga Ayub melakukan pembelaan dihadapan Tuhan. Pembelaan ini bukan berarti bahwa Ayub memberontak dihadapan Tuhan, melainkan Ayub ingin terus menjaga kesalehan nya di hadapan Tuhan. Bila kita membaca dalam versi bahasa Indonesia masa kini nya dikatakan dalam ayat 7 “Andaikata aku telah menyimpang dari jalan yang benar, atau hatiku tertarik oleh hal yang cemar, jika tanganku ternoda oleh dosa,”. Kita mendapatkan bahwa Ayub tidak merasa bersalah, dia malahan menjadi sangat kebingungan saat tertimpa berbagai bencana yang dahsyat. Oleh karena itu, pembelaan diri Ayub harus dipahami sebagai keinginan untuk mencari penjelasan tentang mengapa dia harus mengalami penderitaan. Padahal Ayub sudah menjaga hidupnya tetap saleh dihadapan Tuhan. Mungkin saat ini kita sedang mengalami seperti apa yang dialami Ayub. Sudah melayani bertahun-tahun, rajin baca firman, setia dalam saat teduh, dll. Tapi yang terjadi malahan penderitaan dan kesusahan lah yang menimpa hidup kita. Sebenarnya bukan karena Tuhan jahat, mungkin itu diijinkan Tuhan untuk melatih iman dan kesungguhan hati kita untuk terus bergantung kepadaNya. Rasa sakit dan penderitaan seringkali menyebabkan kita mulai menyalahkan dan menuduh Tuhan, namun di dalam semuanya itu, Tuhan sudah menyediakan dan memiliki rencana indah yang mulia dalam untuk hidup kita.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365 │DAY 260

Minggu, 17 Sept 2023 Pembacaan Alkitab; Ayub 25 – 28 Permulaan hikmat adalah takut akanTuhan tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.” Ayub 28:28 Sudah sangat jelas sekali dalam Mazmur 111:10 juga dikatakan bahwa “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Untuk mendapatkan dan menerima hikmat dari Tuhan, hidup kita harus takut akan Dia. Hidup takut akan Tuhan berarti hidup harus selaras dan sesuai dengan firman Tuhan (kebenaranNya). Kalau kita belajar dari kehidupan Ayub, apapun yang dialaminya, dia tetap taat dan setia kepada Tuhan. Inilah salah satu ciri kalau hidup kita takut akan Tuhan, sehingga Tuhan memberikan kekuatan dan hikmat kepadanya untuk mampu melewati apa saja yang dialaminya. Takut akan Tuhan adalah sikap rasa hormat, kerendahan hati, dan ketaatan kepada kehendak-Nya. Ketika kita hidup dengan kesadaran akan kehadiran dan keagungan Tuhan, kita memiliki dasar yang kokoh untuk menghadapi tantangan dan goncangan dalam hidup. Kehidupan yang didasari oleh takut akan Tuhan ini memiliki kedalaman dan stabilitas yang lebih kuat Serta komitmen untuk hidup dalam ketaatan kepada-Nya, sehingga kita akan membuat keputusan yang lebih baik dan hidup sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. “Rasa takut yang benar terhadap Tuhan adalah gabungan antara rasa hormat dan senang (pleasure), sukacita dan kekaguman yang tidak dapat dijelaskan yang memenuhi hati kita ketika kita menyadari siapa Tuhan itu dan apa yang telah Dia perbuat bagi kita dan membuat kita paling bahagia ketika kita melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.” ~Sinclair Ferguson

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL365 | DAY 259

Sabtu, 16 Sept 2023 Pembacaan Alkitab; Ayub 21–24 “KESELAMATAN BAGI ORANG YANG RENDAH HATI” “Karena Allah merendahkan orang yang angkuh tetapi menyelamatkan orang yang menundukkan kepala!” (Ayub 22:29) Ini adalah bagian dari percakapan Elifas saat ia menasihati Ayub. Arti sebenarnya dari kalimat ini adalah: “Apabila manusia dijatuhkan, maka engkau berkata: ada yang meninggikan, dan Ia akan menyelamatkan orang yang rendah hati.” Makna yang bisa kita peroleh dari pernyataan ini adalah apabila suatu saat sesama manusia menjatuhkan, merendahkan, membuang atau bahkan melemparkan kita ke bawah, kita harus tetap yakin bahwa Tuhan yang akan mengangkat dan menyelamatkan kita. Asalkan kita tetap rendah hati, Tuhan akan melepaskan kita dari penderitaan, membawa kita kepada tempat yang aman, dan kemudian memulihkan keadaan kita. Di dalam menjalani kehidupan, kita tidak bisa menghindari gesekan dengan sesama manusia. Kadang ada orang-orang jahat & iri hati yang ingin mencelakakan kita dan membuat kita mengalami kesulitan. Mereka ingin menjatuhkan kita ke tempat paling rendah, ke sebuah tempat gelap dimana menurut mereka kita tidak akan bisa bangkit kembali, karena tidak ada dasar untuk berharap. Tetapi orang benar akan menemukan pertolongan tepat pada waktunya. Di dalam keadaan terpuruk seperti itu, apabila kita mau merendahkan diri dan berseru kepada Tuhan, maka Ia akan mendengar teriakan minta tolong kita. Bahkan Roh Kudus akan memberikan kekuatan dan keyakinan pada kita, sehingga kita bisa mendapatkan pertolongan-Nya yang membuat kita dengan penuh keyakinan bisa berkata bahwa Allah akan mengangkat dan menyelamatkan kita. Maka Tuhan bukan hanya akan menyelamatkan kita, Ia juga akan mengangkat kita, Ia akan meninggikan kita di hadapan para lawan, yaitu orang-orang jahat yang ingin mencelakakan kita. Pada akhirnya semua orang akan melihat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang Mahakuasa, yang penuh kasih dan kemurahan kepada umat-Nya, yang membela dan memberikan kemuliaan bagi orang benar yang disayangi-Nya. Merendahkan diri adalah langkah awal untuk menerima pertolongan-Nya, yaitu uluran tangan Tuhan yang membawa orang benar naik ke atas, ke tempat yang mulia.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL365 | DAY 258

Jumat, 15 Sept 2023 Pembacaan Alkitab; Ayub 17–20 “KOKOH DALAM KEBENARAN DAN KEMURNIAN” “Meskipun begitu orang yang benar tetap pada jalannya, dan orang yang bersih tangannya bertambah-tambah kuat.” (Ayub 17:9) Orang benar tidak akan membiarkan dirinya disesatkan dari jalan yang benar, sebaliknya mereka akan tetap hidup berpegang teguh pada jalan kebenaran Tuhan & menolak untuk berbuat dosa, Sekalipun ia harus mengalami penderitaan yang berat oleh karena celaan, penganiayaan manusia, kesulitan hidup dan kemiskinan, ia tetap tidak akan menyimpang melainkan berpegang teguh pada Firman Tuhan tanpa dapat digoyahkan. Hidup sebagai orang benar di dunia yang gelap ini memang tidaklah mudah, ada banyak tantangan dalam kehidupan ini. Tetapi sebagai orang yang telah dibenarkan oleh Tuhan Yesus, kita akan dapat bertahan sebab kasih karunia dan kekuatan kuasa Roh Kudus yang diberikan oleh Allah pada kita. Orang yang memiliki tangan yang bersih akan semakin kuat. Mereka adalah Orang yang benar dalam perkataan dan tindakannya sehingga Hidupnya terjaga bersih dari kenajisan, kejahatan, kecemaran, dan dosa. Hatinya jujur dan murni ia dapat mempertahankan integritasnya. Sebab ada kuasa Roh Kudus yang memampukannya. Kuasa Roh Kudus memampukan kita untuk menghadapi lawan dan menanggung berbagai berbagai penderitaan, sehingga kita bisa terus dengan teguh dan kuat berada di jalan kebenaran dan kebaikan Allah.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL365 | DAY 257

Kamis,14 Sept 2023 Pembacaan Alkitab: Ayub 13–16 “JANGAN HIDUP & MATI SIA-SIA” “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.”(Ayub 14:1-2) Seberapa lamakah seorang manusia bisa hidup? Para pemilik rekor manusia tertua di dunia di zaman modern ini tidak ada yang usianya melebihi 125 tahun. Manusia yang paling panjang umurnya di Alkitab adalah Metusalah, ia mencapai umur 969 tahun, Abraham mencapai umur 175 tahun, sedangkan umur Musa 120 tahun, ternyata semakin lama umur manusia semakin singkat. Memang benar, manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Dalam hal ini Ayub melihat asal mula kelemahan manusia, yaitu ia dilahirkan dari seorang perempuan. Mungkin kita berpikir perempuan sebagai kaum yang lebih lemah secara fisik (bdk. 1Ptr. 3:7) , tapi bukan karena kelemahan semacam itu, melainkan karena dosa yang diturunkan ketika seseorang dikandung oleh ibunya “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mzm 57:7) . Masalah dosa ini bukan hanya membuat seluruh keturunan Adam mati secara rohani, tetapi juga menggerogoti kehidupan manusia, sehingga semakin singkat umurnya di bumi. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mzm 90:10) . Bukankah semakin lama kita hidup, kita akan semakin sering melihat kejahatan yang terjadi, begitu pula penderitaan yang dialami oleh umat manusia yang semakin lama semakin berat itu? Konsekuensi dosa adalah maut, tetapi sebelum kematian itu datang, segala masalah yang dialami manusia akan membuatnya hidup penuh dengan kegelisahan. Manusia lahir, tumbuh seperti bunga yang berkembang, sedikit saja mengecap kesenangan lalu segala menderitaan fisik, mental, dan spiritual akan menghimpitnya; ia menjadi lemah dan layu, lalu tidak lama kemudian ia mati dalam kesia-siaan. Tentunya kita tidak menginginkan kehidupan dan kematian seperti ini bukan? Seberapa lamakah kita akan hidup di muka bumi ini, tidak ada yang mengetahuinya. Tetapi satu hal yang pasti: kita menginginkan hidup dalam sukacita dan damai sejahtera, hidup mengalami berkat dan kelimpahan, hidup yang singkat di bumi tapi penuh arti. Semuanya itu bisa tercapai apabila masalah dosa diselesaikan. Saat kita datang kepada Tuhan Yesus dan mengakui dosa kita, kita akan menerima pengampunan, penebusan, dan keselamatan, hidup kita dibenarkan dan dikuduskan-Nya. Berkat keselamatan akan memulihkan dan memberikan kedamaian serta sukacita yang seharusnya kita miliki. Hidup kita tidak berhenti pada kematian di bumi, sebab kehidupan yang kekal akan kita alami di surga.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365 | DAY 256

Rabu, 13 Sept 2023 Pembacaan Alkitab; Ayub 9-12 SALAH MENILAI TUHAN Dialah yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku dengan tidak semena-mena (Ayub 9:17) Banyak orang meninggalkan Allah bukan dalam situasi yang nyaman, seringkali hal itu terjadi saat mereka dalam keadaan sulit. Sebab mereka merasa bahwa Allah diam dan tidak menolong mereka dalam situasi tersebut. Tidak sedikit orang Kristen yang menganggap bahwa Tuhan itu tidak adil. Kenapa orang benar harus banyak mengalami penderitaan? Ayub pun berpikir demikian. (Ayub 9:17) menggambarkan perasaan Ayub yang tengah mengalami penderitaan yang luar biasa. Dia merasa bahwa Tuhan telah menghancurkannya tanpa alasan yang jelas, dan perasaannya terluka oleh keadaan sulit yang dia hadapi. Dalam saat-saat seperti ini, kita sering kali merasa frustasi dan cenderung menyalahkan Tuhan. Ketika kita merasa bahwa Tuhan “memberi kita dengan banyak sengsara tanpa sebab,” kita harus mencoba untuk mempercayai bahwa Allah memiliki rencana yang sempurna, meskipun kita tidak selalu dapat memahaminya. Jangan sampai kita salah menilai Tuhan! Ingatlah selalu bahwa dalam segala keadaan God is good all the time, all the time God is good. Hari ini kita diingatkan untuk tidak bersikap terlalu cepat dalam menilai Tuhan berdasarkan pengalaman-pengalaman singkat kita, tetapi belajarlah untuk bersabar dan percaya bahwa Tuhan memiliki alasan-Nya sendiri dalam mengatur segala hal. Biarlah Allah selesai membentuk kita, supaya kita dapat merasakan betapa baiknya Allah bagi hidup kita. Ketika badai kesulitan datang, janganlah salah menilai Tuhan, ingatlah bahwa ada Pelangi sehabis hujan.