Author: Administrator

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365 | DAY 107

Selasa, 16 April 2024 Pembacaan Alkitab; Lukas 13 – 15 TUHAN Senang dengan orang yang rendah hati Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 14:11 Kesombongan dan kebanggaan diri merupakan sesuatu yang ditolak oleh Tuhan. Ketika seseorang memandang dirinya lebih tinggi dari yang lain, maka ia rentan terhadap pencobaan dan jatuh dalam dosa. Namun, ketika seseorang memiliki kerendahan hati, maka ia menerima kasih karunia Allah dan diangkat Nya. Kerendahan hati bukanlah tentang merasa rendah diri atau tidak memiliki harga diri, tetapi lebih kepada sikap tunduk dan patuh kepada kehendak Allah. Dengan memiliki kerendahan hati, kita belajar untuk mengakui keterbatasan dan kelemahan kita sebagai manusia, serta bergantung sepenuhnya kepada Allah sebagai sumber kekuatan dan kasih. Sikap kerendahan hati juga membuat kita ingin lebih melayani sesama tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan pujian dari manusia. Ketika kita tidak mencari pengakuan atau pujian dari dunia ini, maka Tuhan akan mengangkat dan memberkati kita pada waktu-Nya. Marilah kita memohon pertolongan dan kemampuan dari Roh Kudus agar kita dapat memiliki kerendahan hati sehingga melayani sesama dengan kasih tanpa pamrih.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365│DAY 106

Senin, 15 April 2024 Pembacaan Alkitab; Lukas 10 – 12 JANGAN KUATIR Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Lukas 12:22 Sebagai orang percaya, mungkin kita bisa merasa cemas atau kuatir terhadap hal-hal duniawi seperti makanan dan pakaian, tetapi janganlah kita tinggal dalam cemas & kuatir sebab hal ini adalah musuh dari iman karena dapat menghalangi kita untuk sepenuhnya mempercayai dan mengandalkan Tuhan. Tuhan adalah sumber segala kehidupan dan Dia akan menyediakan segala kebutuhan kita jika kita percaya dan mengandalkan-Nya sepenuhnya. Terlalu sering kita terjebak dalam kecemasan tentang apa yang akan terjadi besok atau dalam waktu yang akan datang. Namun, Allah mengajarkan kita untuk hidup pada saat ini dan percaya bahwa Dia akan menyediakan segala kebutuhan kita pada waktunya yang sempurna. Fokus kepadaNya dalam hidup ini. Mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya harus menjadi prioritas utama dalam hidup kita. Ketika kita memusatkan perhatian dan energi kita untuk mengasihi dan melayani Tuhan maka segala kebutuhan kita akan ditambahkan kepada kita tanpa kita harus merasa kuatir. Marilah kita mengambil sikap percaya dan bergantung sepenuhnya kepada Allah yang memiliki kekuatan untuk menyediakan segala kebutuhan kita. Jangan biarkan kecemasan dan kuatiran menghalangi kita untuk hidup dalam kebebasan dan kedamaian yang diberikan oleh Tuhan.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL365 | DAY 104

Sabtu, 13 April 2024 Pembacaan Alkitab: Lukas 4-6 “Tugas seorang yang Diurapi TUHAN” “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19) Di awal masa pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya dan memberitahukan misi-Nya selama ada di dunia. Pada hari Sabat, di kota Nazaret, Ia mengajar di sebuah rumah ibadat dan membacakan nubuatan tentang apa yang akan dilakukan oleh Mesias ketika Ia datang. Dalam kitab Yesaya, telah dinubuatkan bahwa tugas Mesias (yang diurapi) adalah mewartakan kabar baik Allah bagi umat manusia. Melalui kabar baik itu manusia bisa terbebas dari belenggu dosa. Mesias yang dimaksud itu adalah diri-Nya sendiri. Dosa telah membuat seseorang ‘miskin’ di hadapan Allah. Orang itu ‘buta’ karena tidak dapat melihat rencana-rencana Allah bagi dunia dan bagi dirinya sendiri, dan ia ditindas oleh kuasa kegelapan yang melawan Allah. Tuhan Yesus datang untuk membebaskan orang-orang yang tertawan oleh dosa, untuk memberikan penglihatan bagi mereka yang buta, yaitu: pertama dengan berita Injil-Nya Ia membuka mata rohani yang buta, sebab Ia membawa terang bagi dunia yang gelap; Kedua dengan kuasa anugerah-Nya Ia menyembuhkan mereka yang buta mata jasmaninya. Dalam Perjanjian Lama, tahun rahmat Allah bisa berupa Tahun Sabat (tahun ketujuh) dan juga Tahun Yobel (tahun kelimapuluh), keduanya berbicara mengenai pembebasan, pemulihan, dan pendamaian. Yesus Kristus datang untuk memberi tahu dunia bahwa Allah bersedia berdamai dengan manusia dan Allah mau menerima mereka dengan Perjanjian yang Baru. Pada puncaknya, dalam peristiwa penyaliban Yesus Kristus, semua nubuatan dalam Kitab Yesaya tentang janji keselamatan Allah yang datang melalui Mesias tergenapi. Dulu kita adalah orang yang miskin, buta, dan tertawan; tetapi sekarang kita telah menerima pembebasan dan keselamatan oleh anugerah di dalam Tuhan Yesus. Sebagai orang percaya, kita harus semakin serupa dengan Kristus, kita juga hendaknya meneladani-Nya dalam kasih-Nya kepada mereka yang terhilang. Biarlah pengurapan Roh Kudus tercurah dalam hidup kita agar kita mampu saat diutus dalam menjalankan tugas yang diberikan Nya pada kita.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL365 | DAY 103

Jumat, 12 April 2024 Pembacaan Alkitab: Lukas 1-3 “Bagi ALLAH tidak ada yang MUSTAHIL” “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Lukas 1:37) Apabila Allah telah berfirman, tidak ada satu pun – baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi – yang dapat menghalangi kuasa-Nya, sehingga apa yang dijanjikan-Nya itu pasti akan terjadi. Karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, segala sesuatu yang Dia katakan atau janjikan, Dia sanggup dan pasti akan melakukannya. Jadi, segala nubuatan yang disampaikan oleh para nabi-Nya, atau yang dinyatakan oleh para malaikat-Nya, pasti akan digenapi-Nya. Ketika Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan memiliki keturunan yang menjadi pewarisnya, maka janji itu digenapi-Nya. Kelahiran Ishak adalah bukti bahwa keadaan alami Abraham dan Sarah yang sudah sangat tua tidak menghalangi janji itu tergenapi. Satu hal yang dimiliki Abraham adalah iman supaya hal itu terjadi. Saat Allah menyampaikan sebuah janji melalui malaikat-Nya kepada seorang perawan bernama Maria bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang Anak yang akan bertahta selama-lamanya, maka janji itu juga digenapi-Nya. Kelahiran Yesus adalah bukti bahwa keadaan alami Maria yang masih suci tidak menghalangi janji itu tergenapi. Sama seperti Abraham yang pada awalnya bingung bagaimana hal itu mungkin terjadi, begitu juga dengan Maria yang kemudian memilih untuk taat dan ia memiliki iman sehingga hal itu bisa terjadi. Semua manusia yang masih hidup memiliki masalahnya, namun Bagi orang percaya, Tuhan memberikan janji bahwa Dia akan memberikan pertolongan-Nya. Apabila kita memiliki masalah yang demikian berat dan tampaknya mustahil untuk diselesaikan, maka kita harus memiliki iman dan pengharapan bahwa: Pertama, Allah sangat mengasihi kita, dan Dia bermaksud menolong kita, kedua situasi yang ada tidak bisa menjadi penghalang bagi kemahakuasaan Allah, ketiga kuasa dan janji Allah itu pasti akan membebaskan kita dari masalah yang menghimpit. Lakukan bagian kita untuk tetap taat dan setia, memelihara iman serta pengharapan yang kuat, yang mengandalkan Tuhan. Bagian Allah adalah menggenapi setiap janji-Nya untuk terjadi dalam hidup kita.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL365 | DAY 102

Kamis, 11 April 2024 Pembacaan Alkitab: Roma 25-27 “PERSEMBAHAN YANG SEJATI” “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1) Ayat ini merupakan bagian dari pegajaran yang disampaikan oleh rasul Paulus untuk dipahami dan dipraktikkan oleh jemaat mula-mula yang ada di kota Roma. Paulus mengingatkan mereka akan kemurahan yang telah mereka terima dari Allah. Sebagai wujud ucapan syukur karena belas kasihan itu, maka Paulus menasihatkan agar mereka mempersembahkan tubuh mereka. Pada zaman Perjanjian Lama, orang Israel mempersembahkan hewan korban bakaran dan sembelihan ke hadapan Tuhan. Ada dua jenis korban: pertama, korban penebusan salah, yang dipersembahkan untuk mendapat pengampunan atas kesalahan dan dosa yang baru saja dibuat orang itu; kedua, korban ucapan syukur, yang dipersembahkan sebagai bentuk berterima kasih atas berkat atau pertolongan Tuhan yang baru saja diterima orang itu. Pada zaman Perjanjian Baru ini, korban penebusan dosa yang sempurna adalah Tuhan Yesus sendiri, sehingga orang Kristen tidak perlu mempersembahkan korban penebusan dosa lagi. Maka yang bisa kita persembahkan sebagai bentuk ibadah yang sejati adalah tubuh kita, yaitu tubuh lahiriah dan tubuh batiniah sekaligus. Di zaman PL hewan korban ucapan syukur harus mati untuk memenuhi fungsinya dalam ritual di atas mezbah, namun di zaman kasih karunia ini, tubuh kita harus tetap hidup, tapi tidak sembarangan hidup, melainkan hidup (zoe) yang memiliki tujuan ilahi, yang harus senantiasa dijaga untuk tetap ada dalam kekudusan, dan yang berkenan kepada Allah. Manusia lama kita telah mati, dan sekarang kita hidup sebagai manusia baru yang dilahirkan dalam Roh Kudus. Mari persembahkan yang terbaik dan sejati, yaitu keseluruhan tubuh kita.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365 | DAY 101

Rabu, 10 April 2024 Pembacaan Alkitab, Imamat 22-24 PERSEMBAHAN TERBAIK Segala yang bercacat badannya janganlah kamu persembahkan, karena dengan itu TUHAN tidak berkenan akan kamu (Imamat 22:20) Jika suatu kali tetangga kita memberikan buah mangga yang busuk kepada kita, bagaimanakah perasaan kita? Senang atau tersinggung? Apakah kita akan menerima pemberian tersebut? Mungkin kita bisa menerimanya, tetapi kemudian kita buang karena sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Dalam Perjanjian Lama pun, Allah mengajarkan dan memberikan peraturan kepada bangsa Israel bagaimana cara memberi dengan cara dan sikap yang benar di hadapan Allah. Ketika kita memberikan persembahan terbaik kepada Tuhan, kita menunjukkan penghargaan kita terhadap-Nya dan pengakuan akan keagungan-Nya dalam hidup kita. Ini bukanlah tentang persaingan dengan orang lain atau mencoba untuk memperoleh pujian dari Allah. Pemberian yang kita berikan kepada Allah tidak membuat Allah semakin mengasihi kita, sebab pada dasarnya Allah selalu mengasihi kita. Justru sebaliknya, kitalah yang sedang menunjukkan kasih dan penghormatan kita kepada-Nya. Persembahan terbaik kepada Tuhan tidak hanya tentang memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki secara materi, tetapi juga tentang memberikan hati dan jiwa kita sepenuhnya kepada-Nya. Kualitas kedewasaan iman kita ditunjukkan melalui sikap hati dan cara kita memberi di hadapan Allah.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365 | DAY 100

Selasa, 9 April 2024 Pembacaan Alkitab, Imamat 19-21 KUDUS DI MATA TUHAN “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (Imamat 19:2) Di tengah budaya dunia yang seringkali menetapkan ukuran kekudusan yang berbeda-beda, terkadang sulit bagi kita untuk memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan hidup dalam kekudusan. Dunia menawarkan ukuran ganda, hal ini sering kali didorong oleh kepentingan pribadi atau budaya yang terus berubah, bahkan cenderung kompromi dengan alasan toleransi. Sebagai orang percaya, ukuran kekudusan kita bukanlah ukuran dunia, namun ukuran firman Tuhan yang adalah perkataan Allah itu sendiri. Ukuran kekudusan Allah tidaklah berubah, karena mencerminkan karakter-Nya yang sempurna dan tak tergoyahkan. Ia tidak akan pernah melanggar firman -Nya sendiri. Allah bukan hanya menginginkan kita untuk hidup dalam kekudusan, tetapi Dia sendiri adalah sumber dan ukuran kesucian tersebut. Ketika kita memahami bahwa Allah adalah kudus, kita akan lebih memahami arti pentingnya hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika membaca dan memahami kekudusan berdasarkan Imamat 19, kita akan mendapatkan sebuah pemahaman bahwa kekudusan hidup berkaitan dengan hidup benar di hadapan Allah dan sesama, tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. Dunia mungkin mengejar kesenangan sementara, kekayaan materi, atau popularitas, tetapi kekudusan Allah menekankan pengorbanan, kasih tanpa pamrih, dan kesetiaan kepada Firman-Nya. Hidup dalam kekudusan bukan sekadar tindakan satu kali, tapi sebuah perjalanan rohani yang terus-menerus. Setiap langkah kecil yang kita ambil membawa kita lebih dekat kepada-Nya.

[BREAD OF LIFE – GIVES LIFE] BOL 365 | DAY 99

Senin, 8 April 2024 Pembacaan Alkitab, Imamat 16-18 MENGHORMATI TUHAN Firman TUHAN kepadanya: “Katakanlah kepada Harun, kakakmu, supaya ia jangan sembarang waktu masuk ke dalam tempat kudus di belakang tabir, ke depan tutup pendamaian yang di atas tabut supaya jangan ia mati; karena Aku menampakkan diri dalam awan di atas tutup pendamaian (Imamat 16:2) Di tengah pandemi COVID-19, kita harus mengikuti protokol kesehatan saat memasuki ruangan: cek suhu tubuh, gunakan masker, dan cuci tangan. Ini untuk menjaga kita dari virus dan menciptakan rasa aman Di dalam Perjanjian Lama, Allah pun memberikan sebuah aturan atau protokol penting kepada umat-Nya saat masuk ke dalam tempat kudus berjumpa dengan-Nya. Bukan untuk alasan kesehatan, tetapi mengajarkan bagaimana menghormati kekudusan Allah. Sekalipun Allah mengasihi dan tidak melihat rupa kita, bukan berarti kita bisa datang sesuka hati kita tanpa menaruh rasa hormat kepada-Nya. Hidup kudus atau suci artinya kita tidak tercemar dari dosa. Kamus Merriam-Webster mengambarkan “murni (pure)” sebagai sesuatu yang tidak tercampur dengan apapun dan bersih. Kematian Yesus membuat jalan pengudusan bagi kita, setiap orang percaya dapat masuk dalam hadirat Tuhan tanpa perantaraan imam lagi. Seharusnya hal tersebut menyadarkan kita supaya kita menjaga kekudusan hidup lagi, tidak menyia-nyiakan pengorbanan Yesus sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa. Kristus mati agar kita memiliki hidup, hidup dalam kebenaran, kekudusan, dan kasih-Nya. Mari maknailah dan hormatilah Tuhan Yesus dengan cara dan sikap yang benar. Penghormatan kita kepada Tuhan diukur dari seberapa taat kita mau hidup sesuai dengan firman-Nya.