Home » Archives for Administrator » Page 112

Author: Administrator

BERSIKAP CERDIK DAN TULUS

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. (Mat. 10:16)   Menjadi orang yang percaya kepada Kristus tidaklah muda, kita hidup seperti domba di tengah serigala, artinya kita hidup dikelilingi bahaya, dan bahaya itu bisa kapan saja menimpa kita. Penolakan dan penganiayaan adalah sebuah kenyataan yang dialami pengikut Kristus. Hidup disisihkan sebagai kaum minoritas sudah menjadi hal yang biasa. Seharusnya hal itu tidak menjadi penghalang bagi kita untuk hidup menjadi saksi, sebab Tuhan Yesus menasihatkan kita untuk hidup cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kita tidak diajar untuk menjadi orang munafik, tetapi sebaliknya kita diajar untuk hidup dengan bijaksana di tengah dunia ini.   Selalu ada tantang yang baru di setiap zaman yang kita jalani. Jika orang lain terjebak dan mengabaikan Injil Kerajaan Surga, tetapi biarlah kita tetap melakukan kehendak Allah pada zaman ini. Kenalilah cara berpikir orang yang tidak mengenal Tuhan, dan carilah strategi untuk dapat menggarami mereka. Roh Kudus selalu memberikan hikmat bagi kita untuk menjalani kehidupan ini. Jangan menjadi terang ditempat yang terang, dan jangan menjadi garam ditempat yang sudah asin. Kita harus berani keluar menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus. Jika tidak ada yang menjangkau mereka, bagaimana mereka akan diselamatkan? Tuhan Yesus ingin memakai kita untuk menjangkau yang belum terjangkau. Siapkah kita menderita bagi Kristus? Marilah kita memohon kepada Tuhan Yesus untuk menganugerahkan hikmat, kewaspadaan, dan keberanian dalam menjalani setiap tantangan yang ada.   Mengikut Kristus memanglah tidak mudah, tetapi akan selalu limpah dengan anugerah. God bles

DIPILIH UNTUK DIUTUS

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. (Mat. 9:5-6)   Pada masa pelayanan-Nya, Tuhan Yesus memilih murid-murid-Nya untuk diperlengkapi dan menjadi perpanjangan tangan-Nya di dunia ini, sebab Tuhan Yesus tahu bahwa masa hidup-Nya di dunia sangatlah singkat. Setelah murid-murid dipilih, mereka diajar oleh Tuhan Yesus. Tidak hanya berhenti sampai disitu, murid-murid diperlengkapi dengan kuasa dari Tuhan Yesus untuk mengusir roh-roh jahat dan segala kelemahan (Mat. 10:1). Kerinduan Tuhan Yesus adalah agar Kerajaan Sorga dan kuasa-Nya itu “dekat” untuk mendatangkan keselamatan, kasih karunia, dan kesembuhan bagi umat Allah.   Layaknya para murid-murid, setiap orang yang percaya kepada Kristus merupakan orang-orang yang telah dipilh dan dipanggil untuk menegakkan kerajaan Allah di dunia ini. Di dalam hidup kita ada kuasa yang mengalir dari Kristus, seharusnya kita berani untuk mendeklarasikan kuasa Kristus di tengah dunia yang dikuasai oleh si jahat. Kita diutus untuk membebaskan setiap orang yang terbelenggu oleh penyakit dosa dan fisik. Mereka butuh dibebaskan oleh kuasa Kristus, dan Kristus ingin memakai hidup kita menjadi alat-Nya. Setiap orang percata tidak boleh melupakan tugasnya untuk menyebarkan berita tentang Kerajaan Allah dengan segala berkat-Nya. Percayalah, bahwa Allah selalu menyertai kita dengan kuasa-Nya yang tidak terbatas.   Tuhan Yesus yang memilih dan mengutus, Ia juga yang akan memperlengkapi setiap orang percaya dengan kuasa-Nya. God bless!!!

MELAYANI DENGAN BELAS KASIHAN

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. (Mat. 9:35)   Melihat semua pelayanan yang Tuhan Yesus lakukan membuktikan bahwa apa yang Ia katakan adalah benar, bahwa “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat. 20:28). Yesus benar-benar mengasihi jiwa-jiwa dengan penuh belas kasihan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, belas kasihan artinya perasaan iba atau sedih melihat orang lain menderita. Perasaan inilah yang mendorong Tuhan Yesus untuk melakukan mujizat-mujizat-Nya. Dia tidak hanya melihat saja, tetapi Tuhan Yesus jug berusaha meringangkan dan bahkan melepaskan mereka dari segala kelemahan hidup mereka.   Melayani perlu didasari perasaan belas kasihan. Tanpa belas kasihan pelayanan kita akan menjadi pelayanan yang penuh dengan motivasi yang salah. Memang tidak mudah untuk melayani Tuhan, selalu ada tantangan. Mungkin juga ada perasaan lelah, karena tidak semua orang yang kita layani mudah ditangani, tidak sedikit mengalami penolakan. Terkadang juga ada perasaan ingin mundur dari pelayanan, tetapi sebelum melangkah mundur, ingatlah kembali akan jiwa-jiwa, pandanglah mereka dengan penuh belas kasihan. Banyak orang yang perlu uluran tangan kita, mereka yang mengalami sakit, dibelenggu dosa, hidup dalam kepahitan, mereka semua perlu dipulihkan di dalam Yesus. Tuhan Yesus mau memakai kita untuk menjadi alat-Nya, untuk itu milikilah hati yang penuh dengan belas kasihan, yang merindukan jiwa-jiwa diselamatkan oleh Tuhan Yesus.   Pelayanan tanpa belas kasihan pelayanan akan menjadi pelayanan yang penuh tendensius. God bless

BERTINDAK DENGAN IMAN

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” (Mat. 9:18)   Kisah kepala rumah ibadat menunjukkan bahwa Yesus berkuasa atas kematian. Tuhan Yesus berkuasa atas segalanya. Iman yang besar ditunjukkan oleh kepala rumah ibadat yang datang meminta pertolongan Yesus untuk menghidupkan anaknya yang mati. Sesampai di rumah tersebut, suasana berkabung diubah Yesus menjadi sukacita, sekalipun orang-orang pada saat itu menertawakan apa yang dikatakan Yesus. Pada akhirnya Tuhan Yesus membungkam semua tertawaan mereka dengan mujizat yang dilakukan oleh-Nya.   Dari kisah ini kita melihat bahwa iman harus diaplikasikan dalam tindakan, bukan hanya sekedar percaya dimulut. Yakobus pun menuliskan bahwa ‘iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati’ (Yak. 2:26). Pergumulan seringkali dapat menyebabkan seseorang kehilangan iman, sebab selama menjalani kehidupannya ia tidak benar-benar bersandar kepada Kristus. Iman timbul dari pendengaran akan firman (Rm. 10:17). Iman tidak terjadi begitu saja, melainkan harus dibangun setiap hari bersama dengan-Nya. Dalam masa-masa sulit seperti ini, jangan sampai kita kehilangan iman. Tetap sandarkan pengharapan kita hanya kepada-Nya dan praktekkanlah iman kita kepada Kristus dalam hidup sehari-hari agar hidup kita mengalami mujizat demi mujizat.   Yesus adalah jawaban atas segala pergumulan hidup, Dia adalah satu-satunya tempat pengharapan hidup kita yang tidak mengecewakan. God bless!!!

PUASA YANG DIKEHENDAKI TUHAN

Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. (Mat. 9:15)   Ada 3 praktik keagamaan penting yang dilakukan oleh orang Yahudi: bersedekah, berdoa dan berpuasa. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus dalam khotbah-Nya yang pertama di atas bukit memembas ketiga hal tersebut (Matius 6:1-18). Pada waktu itu datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis kepada Tuhan Yesus, mereka bertanya mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa? Mendengar hal itu Tuhan Yesus menjawab, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (ay. 15). Tuhan Yesus tidak membela diri, sebab Tuhan Yesus pun telah mempraktekkan puasa selama 40 hari (Mat. 4:1-11). Yesus mengharapkan orang percaya berpuasa setelah Dia kembali ke sorga. Masa ini adalah masa ketidakhadiran “mempelai laki-laki”, yaitu dari saat kenaikan-Nya ke sorga sampai kedatangan-Nya kembali.   Puasa merupakan cara kita merendahkan diri kita di hadapan Tuhan, sebagai kerinduan dan persiapan kita menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Adakah hari-hari ini kita mau mengambil waktu untuk berpuasa? Kedatangan-Nya sudah semakin singkat, apakah kita sudah mempersiapkan hidup kita sebaik mungkin untuk menyongsong kedatangan-Nya? Tidak ada yang tahu kedatangan-Nya, maka dari itu rendahkanlah diri kita dikaki Tuhan, kita meminta perkenanan-Nya dilimpahkan atas hidup kita. Sehingga saat Tuhan Yesus datang menjemput kita, Ia mendapati kita berkenan di hadapan-Nya. Fokuslah kepada perkara rohani, bukan duniawi. Berpuasalah bukan untuk dilihat manusia, tetapi supaya kita berkenan di hadapan Tuhan Yesus.   Puasa bukanlah ajang meninggikan diri di hadapan manusia, tetapi merupakan salah satu cara kita merendahkan hati di hadapan Allah. God bless!!!

MERESPONI PANGGILAN-NYA

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. (Mat. 9:9)   Tubuh manusia terdiri dari berbagai macam organ, semuanya memiliki fungsinya masing-masing dan penting. Semua organ yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia punya tujuan dan dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Organ tubuh yang satu bekerja sama dengan organ tubuh yang lainnya supaya manusia memiliki kehidupan dan beraktivitas dengan baik. Demikian pula dengan kita sebagai orang percaya, setiap orang percaya punya panggilan dan tugas secara khusus yang Tuhan berikan kepada kita. Tidak ada yang tidak penting, semuanya memiliki perannya masing-masing dalam menyelesaikan misi-Nya di dunia ini. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah saat ini kita sudah berjalan dan meresponi panggilan-Nya?   Tuhan Yesus memanggil orang berdosa untuk mengikut Dia, bukan sebaliknya! Orang berdosa itulah kita. Kita dipanggil dan dipakai oleh Tuhan Yesus bukan karena kehebatan kita, tetapi karena kasih-Nya. Ia menjadikan kita sebagai rekan sekerja-Nya untuk menjadi penjala manusia. Maukah kita meresponi panggilan-Nya sama seperti Matius? Mulailah berpikir untuk menyenangkan hati Tuhan, buanglah segala hal yang tidak berkenan di hati Tuhan. Responilah panggilan-Nya atas hidup kita sebagai ucapan syukur dan bukti kasih kita kepada-Nya. Tuhan menciptakan kita dengan maksud dan tujuan yang mulia, melalui kita banyak orang yang dapat merasakan kasih Kristus. Jangan lupakan tugas dan panggilan-Nya, tetapi responilah panggilan-Nya.   Responilah panggilan-Nya sebagai bukti ucapan syukur dan kasih kita kepada Kristus. God bless!!!