Sabtu, 9 Desember 2023 Pembacaan Alkitab: Hosea 7–9 “TIDAK BISA MENIPU TUHAN” “Kepada-Ku mereka berseru-seru: “Ya Allahku, kami, Israel mengenal Engkau!” Israel telah menolak yang baik — biarlah musuh mengejar dia!” (Hosea 8:2-3) Ketika malapetaka akan ditimpakan kepada mereka, bangsa Israel berseru kepada Tuhan : “Ya Allahku, kami, Israel mengenal Engkau!” Dengan membuat pernyataan tersebut mereka hendak mengingatkan Tuhan kepada perjanjian yang telah Ia adakan dengan mereka. Dengan cara demikian mereka berharap dapat luput dari hukuman Tuhan. Tetapi bangsa Israel telah meninggalkan apa yang baik, yaitu segala kasih dan kebaikan Tuhan bagi mereka. Pada kenyataannya orang Israel tidak benar-benar hidup sesuai dengan pengakuan mereka itu, sebab mereka telah meninggalkan ketaatan kepada hukum-hukum Tuhan. Tuhan bukanlah Allah yang bisa dipermainkan dengan kata-kata manis yang berisi dusta; Tuhan tidak bisa ditipu dengan seruan yang berisi kemunafikan. Pernyataan Israel itu menjadi sia-sia, karena pada kenyataannya mereka telah melangkahi perjanjian Tuhan dan telah durhaka terhadap hukum-Nya. Bangsa Israel telah mengangkat raja-raja bagi mereka tanpa persetujuan dari Tuhan. Mereka juga telah membuat berhala dan menyembah dewa-dewa asing. Oleh karena tindakan mereka yang jahat itu, maka malapetaka tetap akan menimpa mereka. Tuhan akan mengangkat tembok perlindungan-Nya dan membiarkan musuh Israel masuk menyerbu dan menaklukkannya. Maka, pada waktu yang ditetapkan Tuhan, bangsa Asyur mengejar bangsa Israel, mengalahkan mereka, lalu mengangkut mereka ke dalam pembuangan. Sebagai orang percaya, yang telah dipilih untuk diselamatkan oleh Tuhan, kita juga harus hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Sebagai umat yang telah dibenarkan dan dikuduskan oleh Tuhan, kita harus menjaga kehidupan kita agar tidak mendukakan hati-Nya. Keselamatan yang dianugerahkan Tuhan bagi kita tidak boleh diremehkan. Janganlah mengulang kesalahan bangsa Israel yang memandang rendah perjanjian Tuhan bagi mereka. Hargailah kebaikan dan kasih setia Tuhan bagi kita dengan cara hidup dalam ketaatan kepada perintah-Nya, hidup kudus dan berkenan bagi-Nya.
Jumat, 8 Desember 2023 Pembacaan Alkitab: Hosea 4–6 “BERUSAHA MENGENAL TUHAN” “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” (Hosea 6:3) Bangsa Israel adalah umat pilihan Tuhan yang dikasihi-Nya. Tuhan memelihara bangsa itu dengan berkat dan perlindungan karena perjanjian-Nya dengan mereka. Tetapi kadang bangsa Israel tidak lagi mau mengenal Tuhan. Mereka berbalik dari-Nya dan beralih kepada patung tuangan dan dewa-dewa asing. Sehingga setelah itu, mereka mengalami penderitaan, Tetapi kesengsaraan itu akan berakhir, saat mereka mau bertobat dan kembali berusaha mengenal Tuhan. Saat umat mencari wajah-Nya, Tuhan tidak menyembunyikan diri. Ia akan muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada mereka seperti hujan awal dan hujan akhir. Ada sebuah pertanyaan: “Apakah mungkin seorang manusia yang terbatas bisa mengenal Tuhan yang tak terbatas?” Jawabannya adalah: “Iya, sangat mungkin!” Manusia akan bisa mengenal Tuhan, yaitu sebatas bagian pengetahuan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ada bagian demi bagian yang akan terus ditambahkan dalam pengetahuan akan Tuhan, selama orang itu memiliki hati yang rindu untuk mengenal-Nya. Sebagai orang percaya, kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk mengenal Tuhan dengan benar. Memang proses pengenalan akan Tuhan adalah sebuah perjalanan panjang yang berlangsung selama hidup kita di muka bumi ini. Sebab itu, melalui perenungan firman Tuhan, pengajaran yang alkitabiah, sesi doa, pujian, dan penyembahan, kita berusaha menjalin persekutuan dengan Tuhan, berusaha membangun hubungan yang semakin dekat dengan-Nya. Tetapi pengenalan akan Tuhan yang sesungguhnya adalah hasil karya Roh Kudus. Dialah yang dari mulanya membuat hati dan pikiran kita bisa mengenal Pribadi-Nya, kasih-Nya, dan kehendak-Nya.
Kamis, 7 Desember 2023 Pembacaan Alkitab: Hosea 1–3 “DIKUMPULKAN KEMBALI UNTUK DISELAMATKAN” “Orang Yehuda dan orang Israel akan berkumpul bersama-sama dan akan mengangkat bagi mereka satu pemimpin, lalu mereka akan menduduki negeri ini, sebab besar hari Yizreel itu.” (Hosea 1:11) Kedua kerajaan pecahan Israel menemui nasib yang berbeda ketika mereka dikalahkan oleh musuh dan dibuang. Pada tahun 538 SM orang-orang dari kerajaan Yehuda berhasil kembali ke Yerusalem dan membangun kembali kota itu setelah mereka keluar dari pembuangan di Babel. Tetapi pada tahun 70 M jenderal Titus membuang mereka keluar dari negerinya, sehingga mereka terserak sampai ke bangsa-bangsa selama hampir dua ribu tahun lamanya. Sementara itu orang-orang dari kerajaan Israel tidak terdengar lagi kabarnya sejak mereka dibuang ke negeri Asyur, oleh sebab itu mereka sering disebut sebagai ‘sepuluh suku yang hilang’. Pada tahun 1800-an orang Yahudi mulai berbondong-bondong kembali ke Israel, dan pada tahun 1948 mereka memproklamasikan kemerdekaannya. Tetapi keberadaan sepuluh suku yang lain masih belum bisa diketahui dengan pasti sampai hari ini. Ayat ini menyebutkan bahwa pada suatu hari orang Yehuda dan orang Israel akan dikumpulkan kembali (disebut Yom Kibbutz Galuyot). Mereka akan kembali menempati tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka, tanah Kanaan, yaitu tanah Israel yang pernah mereka tinggalkan. Karena saat ini orang Yahudi telah kembali ke tanah perjanjian mereka sesuai dengan nubuatan tersebut, maka tinggal menunggu waktu sampai sepuluh suku yang lain juga kembali ke Israel. Keturunan Yakub yang dikumpulkan kembali ini akan mengalami pertobatan besar-besaran, mereka akan berbalik dan mencari Tuhan. Mereka akan memiliki satu pengakuan iman, dalam satu pemerintahan, dan mengangkat satu pemimpin, yaitu Yesus Kristus, Anak Daud, sebagai Raja mereka. Tuhan Yesus akan menjadi kepala dan pemimpin jemaat-Nya, yang terdiri dari orang Yehuda dan Israel, orang Yahudi dan orang non-Yahudi, juga orang-orang Kristen. Mereka akan mengaku dengan lidahnya bahwa Yesus Kristus adalah Raja, mengakui kedaulatan-Nya, menghormati-Nya, mengasihi-Nya, dan meninggikan-Nya di dalam satu roh. Marilah kita mempersiapkan diri menyambut hari besar itu, hari orang Yehuda dan Israel berkumpul kembali, di mana ada pertobatan besar, dan nama Tuhan Yesus dimuliakan.
Rabu, 6 Des 2023 Pembacaan Alkitab, Daniel 9-12 JAWABAN DOA Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!” (Daniel 9:19) Dalam Daniel 9, terdapat suatu permohonan yang begitu mendalam dan penuh kerendahan hati dari Daniel kepada Tuhan. Kata-kata tersebut mencerminkan keinginan yang tulus untuk mendapatkan jawaban atas doa. Renungkanlah betapa pentingnya sikap kerendahan hati dan ketulusan dalam berdoa. Daniel tidak hanya memohon, tetapi ia juga memahami bahwa jawaban atas doa tersebut bergantung pada rahmat dan belas kasih Tuhan. Ketika kita berdoa, marilah kita merenungkan apakah doa kita didasarkan pada keinginan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita dapat belajar dari sikap Daniel yang tidak hanya memohon untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk pemulihan dan pemulangan umat-Nya. Jawaban Tuhan terhadap doa kita mungkin tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan, tetapi percayalah bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih besar dan lebih baik bagi kita. Renungkanlah betapa pentingnya memiliki keyakinan dan kepercayaan pada Tuhan meskipun mungkin terkadang jawaban-Nya tidak segera terwujud. Ingatlah bahwa doa bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang mendengarkan dan menerima kehendak Tuhan. Marilah kita belajar dari sikap kerendahan hati Daniel dan memiliki kepercayaan yang kokoh bahwa Tuhan mendengar doa-doa kita dan memberikan jawaban yang terbaik bagi kita. Ketika kita berdoa dengan hati yang tulus, kita bukan hanya meminta jawaban, tapi juga membuka diri untuk mengikuti kehendak Allah.
Selasa, 5 Des 2023 Pembacaan Alkitab, Daniel 5-8 JANGAN MENINGGGALKAN DOA Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya (Daniel 6:12) Doa adalah nafas hidup orang percaya. Tanpa doa, kekristenan kita akan menjadi kekristenan yang mati. Hidupnya pasti tidak punya arah dan tujuan yang jelas, sebab ia tidak pernah berkomunikasi dengan sang Pencipta. Dalam hal berdoa, kita perlu belajar dari seorang hamba Tuhan yang bernama Daniel. Ia adalah seorang anak muda yang masuk dalam pembuagan ke Babel. Ia adalah salah satu orang yang dipilih sebagai pejabat raja. Dalam masa tugasnya, banyak orang yang berusaha untuk menjatuhkannya dengan mencari-cari kesalahannya. Namun, mereka tidak bisa mencari celah kesalahan Daniel. Sebab itu, mereka membuat titah bahwa setiap orang di Babel harus menyembah raja, dan barangsiapa tidak mengindahkan titah tersebut akan dihukum. Daniel memilih tidak mengindahkan perintah tersebut, Ia lebih memilih menyembah Allah yang hidup. Konsekuesnsinya ia dimasukkan dalam gua singa, tetapi mujizat terjadi atas hidupnya. Tuhan menutup mulut-mulut singa yang ingin menerkamnya. Seringkali, kehidupan sehari-hari kita penuh dengan kesibukan dan tekanan, membuat kita cenderung melupakan atau mengurangi waktu kita untuk berdoa. Namun, Daniel memberikan contoh bahwa tidak ada alasan atau hambatan yang dapat menghentikan kita untuk tetap berserah diri kepada Tuhan. Adakah doa menjadi prioritas hidup kita? Doa bukan hanya rutinitas keagamaan, tetapi adalah ungkapan kepercayaan dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Dengan memelihara kehiidupan doa, kita membangun fondasi yang kokoh dalam kehidupan rohani kita dengan Tuhan. Bangunlah kehidupan doa setiap hari! Doa adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan Sang Pencipta, yang akan memberikan kekuatan dan hikmat bagi kita
Senin, 4 Des 2023 Pembacaan Alkitab, Daniel 1-4 IDENTITAS ORANG PERCAYA Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego (Daniel 1:7) Masa muda merupakan masa pencarian jati diri atau identitas. Pada usia tersebut, anak-anak muda biasanya mulai menunjukkan eksistensi dirinya. Mereka melakukan segala sesuatu supaya untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang disekitarnya. Hari ini kita belajar dari anak-anak Tuhan yang dibuang ke Babel, mereka adalah Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Mereka orang-orang yang dipersiapkan oleh raja di Babel. Mereka pun mulai belajar bahasa dan budaya baru, nama mereka pun diganti. Tujuannya adalah untuk mencuci otak mereka agar meninggalkan identitas mereka sebagai orang Israel, dan mereka harus mengikuti pola hidup dan kepercayaan orang Babel. Sekalipun nama mereka diganti, mereka tidak meninggalkan identitas dirinya sebagai orang Israel yang percaya kepada Allah yang hidup. Sebagai anak Tuhan, kita tidak hanya dipanggil untuk hidup sesuai dengan standar-Nya, tetapi juga untuk memberikan kesaksian melalui hidup kita di tengah dunia yang sering kali berlawanan dengan nilai-nilai-Nya. Identitas sebagai anak Tuhan membawa kita pada sebuah tanggung jawab untuk mencerminkan karakter Kristus dalam segala hal. Meskipun mungkin kita dihadapkan pada situasi di mana menjadi anak Tuhan terasa sulit, seperti Daniel yang berada di tengah-tengah budaya yang bertentangan dengan imannya, kita diingatkan untuk tidak menyerah pada tekanan dunia. Sebaliknya, kita dipanggil untuk tetap teguh, menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebenaran dan ketaatan pada Tuhan. Jangan biarkan identitas kita sebagai anak Tuhan tergerus oleh kehidupan dunia ini. Kita tidak hanya hidup untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk memuliakan nama Tuhan di dunia ini. Identitas kita sebagai anak Tuhan tidak tergantung pada nama diri kita, tetapi ditentukan dari sikap hati dan iman kita kepada Tuhan.
Minggu, 3 Des 2023 Pembacaan Alkitab, Yehezkiel 46 – 48 HIDUP TERATUR DAN SEIMBANG Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pintu gerbang pelataran dalam yang menghadap ke sebelah timur haruslah tertutup selama enam hari kerja, tetapi pada hari Sabat supaya dibuka; pada hari bulan baru juga supaya dibuka. (Yehezkiel 46:1) Ayat ini mengandung instruksi tentang pengaturan pintu pelataran dalam istana. Pintu tersebut akan tertutup selama enam hari kerja, namun pada hari Sabat dan pada waktu bulan baru, pintu itu harus terbuka. Aturan ini kemungkinan merupakan bagian dari tata cara ibadah dan perayaan yang diatur dalam hukum Taurat pada zaman itu. Makna rohaninya, kita jangan terlalu sibuk dengan rutinitas sampai melupakan waktu kita bersama Tuhan sehingga hidup kita menjadi berantakan. Firman Tuhan saat ini mengajar kita bahwa kehidupan membutuhkan keteraturan supaya sejalan dengan firman-Nya. Menjalani kehidupan tidak seenaknya atau semaunya kita. Meskipun kita sudah dimerdekakan, tapi hidup kita harus teratur dan sejalan dengan kehendak-Nya. Ada keseimbangan dengan menempatkan prioritas dalam hidup. * Prioritas pertama memiliki keintiman dengan Tuhan. * Prioritas kedua Keluarga * Prioritas ketiga Pekerjaan * Prioritas ke empat Pelayanan. jika prioritas ini kita terapkan dan hidupi dalam kehidupan kita sehari-hari. Maka kemanapun kita melangkah hidup kita akan memancarkan kemuliaan Allah dan menjadi berkat bagi orang lain.
Sabtu, 2 Desember 2023 Pembacaan Alkitab, Yehezkiel 42 – 45 TEMPAT TUHAN BERDIAM dan Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya dan kaum Israel tidak lagi akan menajiskan nama-Ku yang kudus, baik mereka maupun raja-raja mereka, dengan persundalan mereka atau dengan mayat raja-raja mereka yang sudah mati; (Yehezkiel 43:7) Ayat ini merupakan bagian dari visi Tuhan kepada Yehezkiel tentang Bait Allah yang baru.Tuhan memberikan janji bahwa tempat kudus-Nya, akan tetap bersama umat Israel untuk selama-lamanya. Tuhan mau umat-Nya bisa belajar dari kesalahan yang pernah mereka lakukan dulu yang menyebabkan kemuliaan Tuhan meninggalkan mereka. Tuhan berjanji untuk menyelamatkan umat-Nya dan membersihkan tempat kudus-Nya dari segala kekejian dan pelanggaran. Inilah kasih dan kerinduan Tuhan untuk hidup bersama umat-Nya di dalam berkat dan kekudusan. Tuhan telah membawa umat-Nya kembali hidup dalam kemuliaan-Nya melalui apa yang dinyatakan kepada Yehezkiel. Kehidupan yang keji dan semua pelanggaran yang pernah kita lakukan harus berhenti dari hidup kita. Karena semua itu akan membuat kita menjauh dari kemuliaan dan rencana Allah. Ia rindu kita mejalani kehidupan bersama-Nya dalam kekudusan dan menerima berkat-berkat Nya. Tuhan mau kita menjadi tempat kediaman-Nya