Rabu, 6 Maret 2024 Pembacaan Alkitab; Kejadian 37 – 39 PENYERTAAN TUHAN Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Kejadian 39:2 Penyertaan Tuhan adalah kehadiran dan dukungan-Nya dalam kehidupan kita. Tuhan tidak hanya menciptakan dunia ini, tetapi juga terlibat secara aktif dalam kehidupan setiap individu. Meskipun kita mungkin mengalami kesulitan, Tuhan berjanji untuk tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan pun menyertai Yusuf dalam perjalanan hidupnya dan membuatnya berhasil dalam segala hal yang dia lakukan. Yusuf diberkati dengan hikmat & bijaksana sehingga ia menjadi sukses dalam pekerjaannya sebagai budak di rumah Potifar, seorang perwira Mesir. Hal ini mengingatkan kita bahwa Tuhan dapat bekerja di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan kita. Meskipun Yusuf mengalami banyak rintangan dan perlakuan yang tidak adil, Tuhan tetap menyertai dan memberkati dia. Pengalaman hidup Yusuf mengajarkan kita untuk tetap setia kepada Tuhan dalam setiap situasi yang kita hadapi, dan yakin bahwa Dia akan bekerja untuk kebaikan kita. Ketika kita mempercayai dan mengandalkan Tuhan, kita dapat merasakan penyertaan-Nya dalam hidup kita dan mengalami kebaikan-Nya.
Selasa, 05 Maret 2024 Pembacaan Alkitab; Kejadian 34-36 Panggilan Untuk Pembaharuan Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: “Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh.” (Kejadian 35:2-3) Setelah menerima pesan dari Tuhan, Yakub mengumpulkan keluarganya dan orang-orang yang bepergian dengannya, ini menampilkan momen pembaharuan yang kuat bagi Yakub. Ia menyerukan pembuangan “dewa-dewa asing,” yang melambangkan apa pun yang dapat bersaing dengan tempat yang seharusnya dimiliki Tuhan dalam hidup mereka. Tindakan ini menandakan langkah awal yang penting dalam pembaharuan rohani: mengakui dan melepaskan gangguan atau ketergantungan yang salah. Selanjutnya, ia mendesak mereka untuk “tahirkanlah dirimu,” yang menyoroti pentingnya pembersihan batin dan menyelaraskan diri kita dengan kehendak Tuhan. Pemurnian ini dapat melibatkan berbagai bentuk, tergantung pada kebutuhan individu, seperti: mencari pengampunan, melepaskan kebiasaan buruk, atau melakukan doa dan meditasi. Akhirnya, Yakub mengumumkan perjalanan mereka ke Betel, tempat dia sebelumnya bertemu dengan Tuhan dalam mimpi. Tindakan ini menandakan komitmen baru kepada Tuhan dan keinginan untuk kembali ke tempat di mana dia mengalami kehadiran dan janji Tuhan. Ingatlah, pembaharuan rohani adalah perjalanan yang berkelanjutan. Sama seperti Yakub perlu mengunjungi kembali Betel, kita juga mungkin perlu secara berkala kembali ke “Betel” kita untuk memperbaharui komitmen diri, membersihkan hati, dan berkomitmen kembali pada kehidupan yang berpusat pada Tuhan.
Senin, 04 Maret 2024 Pembacaan Alkitab; Kejadian 31-33 REKONSILIASI Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka. (Kejadian 33:3-4) Suatu keadaan yang mengharukan antara Yakub dan Esau, kakak-beradik yang sebelumnya hidup dalam permusuhan. Yakub, yang pernah menipu Esau demi hak kesulungan dan berkat, merasa takut dan penuh keraguan ketika akan bertemu kakaknya kembali. Suatu gambaran 2 Sikap yang luarbiasa, yakni: ▪Kerendahan Hati Yakub, dimana Ia bersujud sampai tujuh kali, tindakan ini menandakan kerendahan hati dan penghormatan yang dalam dari Yakub kepada Esau. Ia juga berjalan di depan mereka, ini dapat dilihat sebagai simbol untuk memikul kesalahan dan mendahulukan Esau serta keluarganya. ▪Ternyata Esau tetap mengasihi, Ia berlari mendapatkan Yakub, tindakan ini bertolak belakang dengan kekhawatiran Yakub yang mengira akan dimarahi. Esau justru berlari dengan niat baik untuk menyambut saudaranya. Esau bahkan mendekap dan mencium Yakub, hal ini adalah tindakan kasih sayang yang tulus dan spontan, menunjukkan bahwa Esau sudah memaafkan Yakub. Dari Kisah ini ada banyak hal yang bisa diterapkan dalam kehidupan kita yaitu tentang kerendahan hati dan pengakuan kesalahan sebagai langkah awal menuju rekonsiliasi. Meskipun Yakub takut, tetap berhadapan dengan Esau dan menunjukkan kerendahan hatinya. Pengampunan adalah pilihan. Esau yaitu dengan memilih untuk memaafkan Yakub, dan ini membutuhkan kekuatan serta kemurahan hati. Mari belajar untuk rendahkan hati dan mengakui kesalahan serta belajar mengampuni dan memaafkan orang yang bersalah kepada kita, sebab hubungan yang retak dan hampir putus masih dapat dipulihkan kembali dengan kerendahan hati dan pengampunan.
Minggu 03 Maret 2024 Pembacaan Alkitab; Kejadian 28-30 Pertobatan dan Komitmen Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.” (Kejadian 28:22) Kejadian 28:22 merupakan bagian dari kisah perjalanan Yakub. Saat itu, Yakub sedang dalam pelarian karena menipu Esau, kakaknya. Ia sendirian, tanpa harta benda, dan hanya memiliki sebuah batu sebagai alas tidurnya. Di tengah situasi yang sulit ini, Yakub bermimpi tentang sebuah tangga yang menghubungkan langit dan bumi, dengan para malaikat yang naik turun. Dalam mimpi itu, Allah berjanji kepada Yakub bahwa Dia akan menyertainya, memberkatinya, dan memberinya keturunan yang banyak. Ketika Yakub bangun dari tidurnya, ia tersadar bahwa tempat itu adalah “rumah Allah.” Ia pun mendirikan batu yang dipakainya sebagai alas tidur sebagai tugu dan berjanji untuk mempersembahkan sepersepuluh dari semua yang dia dapatkan kepada Allah. Peristiwa ini menunjukkan pertobatan Yakub. Awalnya, Yakub hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia menipu Esau demi mendapatkan hak kesulungan. Namun, setelah bertemu dengan Allah, Yakub menyadari bahwa Allah adalah yang terutama dalam hidupnya. Ia pun berjanji untuk setia kepada Allah dan mempersembahkan hidupnya untuk melayani Dia. Dari kisah ini menunjukan bahwa Allah selalu menyertai umatNya, bahkan dalam situasi yang sulit. Saat Yakub sendirian dan terancam, Allah menampakkan diri kepadanya dan memberikan janji-janji yang luar biasa. Tempat di mana kita bertemu dengan Allah adalah tempat yang kudus. Yakub menyadari bahwa tempat di mana ia bermimpi adalah “rumah Allah.” Kita juga dapat bertemu dengan Allah di mana saja, tetapi ada tempat tertentu yang dikhususkan untuk ibadah dan perjumpaan dengan Dia. Pentingnya komitmen dalam hubungan kita dengan Allah. Yakub berjanji untuk mempersembahkan sepersepuluh dari semua yang dia dapatkan kepada Allah. Ini menunjukkan komitmennya untuk setia dan taat kepada Allah, demikian seharusnya kita sebagai umat tebusanNya harus berkomitmen seperti Yakub.
Sabtu, 2 Maret 2024 Pembacaan Alkitab: Kejadian 25-27 “DIBERKATI UNTUK MEMBERKATI” “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” (Kejadian 26:12-13) Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham, Ia akan memberkati Abraham dan keturunannya perjanjian itu diwariskan kepada Ishak. Tuhan juga menopang kehidupan Abraham, Ishak, dan semua keturunannya itu dengan berkat-berkat yang luar biasa pula. Dari bacaan ini kita menemukan kebaikan Allah terhadap Ishak. Ishak begitu diberkati Tuhan, dibuat-Nya menjadi makmur, dan semua yang ada padanya berkembang dengan pesat di tangannya. Pada waktu itu Ishak menempati tanah milik orang Filistin yang disewanya. Ketika Ishak menabur di sana, Allah memberkatinya dengan hasil panen yang berlipat ganda. Dia menuai seratus kali lipat dalam tahun itu juga, ketika terjadi kelaparan di seluruh negeri. Ketika orang lain hampir tidak menuai sama sekali, justru dia bisa menuai hingga berlimpah-limpah. Bukan hanya itu, Tuhan memberkati Ishak sehingga kekayaannya terus mengalami peningkatan secara luar biasa. Berkat itu tidak dinikmatinya sendirian melainkan juga dinikmati oleh para pegawainya. Dari apa yang dialami Ishak kita bisa belajar beberapa hal: pertama, ketika Tuhan ada di pihak kita, sekalipun mungkin kita tidak memiliki apa-apa, tetapi Ia sanggup membuat usaha dan pekerjaan kita berkembang, semakin maju dan meningkat; kedua, Tuhan sanggup memelihara kita dengan sempurna di saat orang-orang dunia mengalami hidup serba kekurangan, Ia sanggup mengenyangkan perut kita dan melimpahi kita dengan berbagai fasilitas penunjang kehidupan; ketiga, Berkat yang kita terima tidak dimaksudkan hanya untuk kita nikmati sendirian, melainkan kita harus bisa menjadi terang bagi bangsa-bangsa dengan cara membagikan berkat yang telah kita terima itu, dan janganlah kuatir, karena Tuhan adalah sumbernya, maka berkat itu tidak akan berhenti mengalir. Penyertaan Tuhan bagi kita mendatangkan berkat yang luar biasa bagi kita. Kita harus memahami bahwa berkat yang telah kita terima itu harus kita salurkan kepada banyak orang yang membutuhkannya. Biarlah hidup kita menjadi penyalur berkat, kita diberkati untuk menjadi berkat.
Jumat, 1 Maret 2024 Pembacaan Alkitab: Kejadian 22-24 “TUHAN YANG MENYEDIAKAN” “Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan”. (Kejadian 22:14) Ketika Tuhan menguji iman Abraham dengan cara menyuruhnya untuk mengorbankan Ishak,ia sungguh-sungguh melakukannya walaupun dengan penuh kesedihan. Memang Abraham sangat mencintai Ishak -anak yang dijanjikan Tuhan dan begitu lama dinantikannya itu, tetapi ia harus membuktikan bahwa kasih dan ketaatannya kepada Tuhan jauh lebih besar dari pada kasihnya kepada Ishak. Kesungguhan Abraham bisa dilihat saat ia naik ke atas gunung Moria dan mengikat Ishak di atas mezbah, dengan cara yang persis seperti orang yang mengikat anak domba jantan yang akan disembelih untuk korban sembelihan dan bakaran. Sebelum Abraham mengulurkan tangan, bersiap untuk memotong dengan pisau, ternyata seekor domba jantan -yang tanduknya tersangkut pada belukar- muncul sebagai pengganti Ishak. Oleh sebab kejadian itu Abraham menamai tempat itu Yehwah Yireh (Jehovah Jireh), artinya: Tuhan menyediakan. Di atas gunung itulah Tuhan menyediakan korban pengganti Ishak. Dalam naskah bahasa Ibraninya, kata “menyediakan” ditulis “yera’eh” yang artinya bisa “menyediakan” bisa juga “muncul, memperlihatkan diri.” Dengan demikian kita bisa memaknai bahwa di gunung itu Tuhan telah memperlihatkan diri-Nya, menunjukkan kasih-Nya, dengan cara menyediakan domba jantan itu. Hal ini sesuai dengan perkataan Abraham kepada Ishak saat ia mengajaknya naik ke atas gunung untuk dikorbankan: “… Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku …” di Kejadian 22:8, sebuah perkataan sebenarnya yang tidak dimaksudkan untuk menghibur anaknya itu, melainkan diucapkan dengan iman yang besar kepada Allah. Tuhan tidak pernah pernah mempermainkan orang yang percaya kepadanya. Apabila kita mengalami kesulitan atau menemui masalah besar, mungkin Tuhan sedang menguji iman kita kepada-Nya. Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah mengambil dan tidak pernah mencobai, tetapi sebaliknya, ujian iman yang diberikan-Nya akan menghasilkan ketekunan, dari ketekunan itu seharusnya kita bisa menghasilkan buah yang matang dan sempurna.
Kamis, 29 Februari 2024 Pembacaan Alkitab: Kejadian 19-21 “HARGA KETIDAKJUJURAN” “Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak.” (Kejadian 20:17) Saat berada di Mesir, Abram mengatakan bahwa Sarai adalah adiknya, bukan istrinya. Hal itu dilakukan oleh Abram karena ia takut dibunuh. Lalu Firaun, raja Mesir, yang tertarik kepada Sarai hendak menjadikannya sebagai istrinya. Hal ini menyebabkan Allah menimpakan tulah yang hebat bagi Firaun dan seisi istananya. Anehnya, kejadian serupa terulang kembali saat Abraham dan Sara berada di Gerar. Abimelekh, raja Gerar, yang tertarik kepada Sara juga hendak menjadikannya sebagai istrinya. Lalu Allah menutup kandungan setiap perempuan di istana Gerar dan Ia hampir membunuh Abimelekh. Abraham baru mengakui Sara sebagai istrinya setelah dipanggil oleh Abimelekh. Maka Abraham berdoa sehingga Allah menyembuhkan Abimelek dan setiap perempuan di istananya itu. Dua kali Abraham hampir mencelakakan nyawa para raja yang telah menyambut baik dirinya dan Sara, di negerinya. Hal itu terjadi akibat ketidakjujuran yang didorong oleh rasa takut yang dimiliki oleh Abraham. Hendak menyelamatkan nyawanya sendiri, tetapi nyaris merenggut nyawa orang-orang yang lain adalah sikap yang tidak benar. Seharusnya Abraham belajar dari kesalahan pertamanya kepada Firaun, sayangnya ia mengulang kesalahan serupa kepada Abimelekh. Tetapi Allah adalah Tuhan yang baik, Ia mau memperingatkan Abimelekh, bahkan menyembuhkannya beserta dengan para perempuan di istananya. Abraham disebut sebagai bapa orang beriman, tetapi dalam perjalanan hidupnya ia juga pernah melakukan kesalahan dalam hal ketidakjujuran. Marilah kita belajar dari kesalahan Abraham itu. Jangan sampai akibat ketidakjujuran dapat mengorbankan orang lain & ada harga yang mahal yang harus dibayar. Hiduplah dalam kejujuran, supaya orang yang menyambut kehadiran kita bukan mendapat celaka, melainkan mendapat berkat.
Rabu, 28 Februari 2024 Pembacaan Alkitab, Kejadian 16-18 ALLAH PASTI MENEPATI JANJI-NYA Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak (Kejadian 17:2) Allah menjanjikan kepada Abraham bahwa Dia akan membuat perjanjian-Nya dengan Abraham dan akan memberkatinya dengan banyak keturunan. Janji ini diberikan kepada Abraham, saat dia dan istrinya Sarah dalam usia lanjut dan belum memiliki keturunan. Meskipun sulit dipercaya bagi mereka pada saat itu, Allah menegaskan janji-Nya, bahwa Sarah akan melahirkan seorang anak laki-laki dan Abraham akan menjadi bapa bangsa-bangsa yang besar. Secara manusia, Abraham pasti meragukan janji Tuhan, sebab tidak mungkin diusianya yang sudah lanjut ia akan memiliki keturunan. Hal itu terbukti ketika Abraham menyodorkan Ismael agar diperkenan menjadi ahli warisnya (ay.18), namun Allah menolaknya dengan tegas (ay. 19). Seringkali Tuhan Yesus ingin melakukan hal yang besar dalam hidup kita, namun kita seringkali meragukan kemampuan-Nya. Logika kita sering kali menjadi penghalang mujizat. Ketidakmampuan pikiran manusia memahami cara kerja Allah membuat manusia menganggap rancangan Allah sebagai kemustahilan. Hal yang tidak mungkin, tidak kita ketahui dan tidak mampu kita lakukan seharusnya membuat kita beriman kepada Allah, bukan meragukan janji Allah. Allah tidak akan pernah berbohong, Tetaplah pegang teguh janji-Nya. Janji Allah tidak pernah terlalu cepat, tidak juga terlambat. Janji-Nya akan digenapi pada waktu yang tepat.